Si Kabayan dan Pasupati Ikon 2 Abad Kota Bandung
SINDO Edisi Jawa Barat, 28 January 2009 hal 1
BANDUNG (SINDO) – Seperti direncanakan sebelumnya, tokoh fiktif si Kabayan dan Jalan Layang Pasupati (Pasteur–Surapati) resmi menjadi ikon rangkaian perayaan 200 tahun atau 2 abad Kota Bandung yang diperingati pada 25 September 2009.
Wawan Juanda, Presiden Republic Entertainment yang menjadi event organizer 10 rangkaian kegiatan 2 Abad Kota Bandung, mengatakan, tokoh si Kabayan sangat cocok menjadi ikon baru Kota Bandung. Pasalnya, Kabayan identik dengan legenda sosok Sunda yang pintar, kritis, namun sekaligus polos dan lugu. Pendek kata: boloho.
Setidaknya ada tiga figur populer yang identik dengan si Kabayan, yakni Kang Ibing,Didi Petet,dan Tisna Sanjaya. ”Semoga sosok si Kabayan memberi spirit baru bagi masyarakat Bandung,” katanya dalam jumpa pers Bandung Festival menyambut 2 Abad Kota Bandung di Pusat Kebudayaan Prancis (CCF), Jalan Purnawarman, Kota Bandung,kemarin.
Mengenai Jalan Layang Pasupati, Wawan menjelaskan, bangunan yang dikerjakan pada 1999–2005 itu mencerminkan semangat kekinian dan kemajuan zaman serta teknologi. Seperti diketahui, proyek senilai Rp484 miliar yang sebagian besar didanai Pemerintah Kuwait ini dilengkapi jembatan cable stayed terbuat dari baja berdiameter 15,7 milimeter sepanjang 161 meter dan tinggi 37,5 meter dengan teknologi yang tergolong pertama di Indonesia.
Desain ulang jembatan cable stayed yang mirip kecapi suling raksasa di fly over sepanjang 2,147 kilometer tersebut dilakukan oleh tenaga ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB). ”Jadi,si Kabayan dan Jembatan Pasupati adalah dua hal yang sangat tepat menjadi ikon Bandung masa kini,” ujar Wawan.
Kabayan dan Pasupati sekaligus menjadi logo rangkaian panjang kegiatan Bandung Festival 2009. Logo dan ikon 2 Abad Bandung ini sudah di-soft launching pada Selasa (28/10/2008) di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Republic Entertainment menyiapkan sebuah perayaan sangat istimewa yang unik dan meriah.
Berbagai kegiatan yang mengedepankan potensi budaya, arsitektur, industri kreatif,musik, dan kesenian tradisional digelar mulai 25 September hingga 31 Oktober 2009 di berbagai titik dengan pusat di Lapangan Gasibu.
Rencananya, acara diawali dengan seni instalasi kolosal Selubung Pasupati, yakni membungkus pilar- pilar Jembatan Pasupati dengan kain hitam selama satu bulan penuh sejak 26 September hingga 26 Oktober 2009 (agenda lain lihat data grafis di halaman 1).
”Kami juga akan menggelar Rocktober secara bersamaan di tiga tempat,yaitu Lapangan Gasibu, Tegallega, dan Saparua pada 31 Oktober 2009,”papar Wawan. Dia berharap Bandung Festival sebagai city event akan menjadi daya tarik bagi para wisatawan domestik maupun asing. Kegiatan ini pun diharapkan dapat menjadi penanda utama identitas baru Bandung sebagai kota festival atau kota karnaval.
Ada dua hal yang disayangkan Wawan dari Pemerintah Kota Bandung menyangkut penyelenggaraan festival kota semacam ini, yaitu lambatnya perizinan dan penyusunan agenda pariwisata yang tidak pernah jelas. Akibatnya,wisatawan jadi selalu ragu-ragu untuk menghadiri sebuah agenda karena khawatir batal atau tanggalnya berubah.
Menurut Wawan, dengan keterlibatan aktif pemerintah daerah dan swasta, rangkaian acara Bandung Festival bisa membengkak jadi 100 event. ”Pemkot Bandung cukup memberikan kemudahan izin, keringanan pajak, dan kemudahan prosedur,” pungkasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung M Askary Wirantaatmadja menyatakan, Pemkot Bandung akan memotong jalur birokrasi yang tidak penting agar berbagai kegiatan yang berpotensi menarik banyak wisatawan bisa segera dilaksanakan. ”Pak Wawan dan timnya punya rencana potong jalur prosedur agar bisa lebih mudah. Termasuk, agenda kegiatan selama setahun penuh akan dirancang dengan baik,” jelasnya. (arif budianto/raka zaipul)
Rangkaian Acara “Bandung Festival 2009” Perayaan 200 Tahun Kota Bandung
1.Selubung Pasupati 26 September - 26 Oktober 2009 di Fly Over Pasupati
2.Bambu Nusantara III 3-4 Oktober 2009 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga)
3.Parade Anglung 3-4 Oktober 2009 di Sabuga
4.Bragavaganza 10 dan 11 Oktober 2009 di Jalan Braga
5.Legendary Festival 10-11 Oktober di Jalan Braga
6.Gastronomic Viesta 10-11 Oktober di Jalan Braga
7.Dago Jazz Camera 17-18 Oktober Jalan Dago
8.Pesta Sastra 23-25 Oktober Jalan Dago
9.T-Look Merchandise Festival 25 Oktober Jalan Dago
10.Rocktober 31 Oktober 2009 di Lapangan Gasibu, Tegallega, dan Saparua
“Bandung Festival” akan dimeriahkan pula dengan talkshow, diskusi,
festival film, dan pameran berbagai karya seni budaya.
Ahad, 26 Desember, 4 tahun lalu
26 Desember 2008. Memori kembali melayang jauh ke empat tahun lalu. Ahad, 26 Desember 2004 ketika monster tsunami menerjang Aceh. Teringat lagi pengalaman jurnalistik bertugas meliput pascatsunami. Sebenarnya, semua sulit sekali dilukiskan dengan kata-kata. Ketika saya datang, atmosfer horor dan bau mayat bercampur sampah masih menebar di mana-mana.
Sayang, semua beberapa dokumentasi pribadiku tentang Aceh tak tersimpan dengan baik. Aku hanya mendapatkan beberapa di file yang sebelum resign, sempat ku-copy dari laptop Jawa Pos yang pernah kubawa ke sana.
Aku tergerakuntuk mencoba mengakses www.jawapos.com berharap dokumentasi berita & foto liputanku di Aceh dulu masih ada. ah, nihil! Semua sudah terhapus. Mungkin dihapus bersamaan dengan perubahan desain website itu pada 2006.
Akhirnya aku mencoba untuk mencarinya di google dengan beberapa kata kunci, termasuk namaku. Ini harapan terakhir. Alhamdulillah. Kudapatkan beberapa. Itupun dari website atau blog yang pernah mengutip berita2ku dari Jawa Pos.
Ah, biar kudokumentasikan saja di blog ini.
Sambil membaca ulang hasil liputanku dulu….
sayang
Aduh, sayang. Banyak feature dan beritaku di Aceh yang tidak ditemukan. Terutama soal salat Jumat pertama pascatsunami di Masjid Baiturrahman. Whoahhh.
Ada yang bisa bantu?









