energi yang tersisa
enam pilkada kab/kota digelar serentak di jabar kemarin (minggu, 26/10). subang, ciamis, cirebon, garut, majalengka & kota banjar. dari enam daerah itu, ada satu daerah yang sindo sebenarnya tidak menempatkan reporter yaitu kota banjar.
sudah sejak bbrp bulan ke belakang gw tanya ke biro bgaimana kemungkinan mengirim reporter utk bertugas sementara di sana. intinya, soal duit jalan, uang saku, dll. setidaknya sepanjang masa kampanye hingga dua atau tiga hari setelah pencoblosan.
Tapi hingga saat terakhir tidak kunjung ada kejelasan meski gw minta kepala redaksi di sana rajin & rada ngotot memperjuangkannya. alasannya di biro klasik: ga ada duit. pastinya gw ga mungkin seenaknya menugaskan reporter dr bandung ke daerah tanpa ada kejelasan duit SPJ. apalagi kalau permintaannya ditalangi dulu oleh reporter ybs kemudian diklaim setelah tugas selesai. yg sudah-sudah, pencairannya selalu lama atau tidak dibayar sama sekali. terus terang, redaksi sudah cukup trauma.
sejak awal gw memang sudah menyiapkan bbrp plan & ini sdh dikomunikasikan ke reporter & asred2 gw. kalau plan a kirim reporter gagal, plan b-nya ya terpaksa reporter di ciamis yg juga sedang sibuk garap pilkada di daerahnya mengandalkan data pantulan hasil penghitungan suara sementara di banjar per pukul 21.00 WIB. itu saja. proses coblosan atau tetek bengeknya ga perlu diliput. reporter di bdg yg pernah bertugas di banjar juga bisa menyumbang berita pantulan utk melengkapi.
plan b itu memang menabrak etika & prinsip jurnalistik. ya, tp itulah diskresi yg terpaksa gw siapkan. namanya jg siasat darurat.
sabtu malem, baru saja pulang dr syukuran seorang sahabat di bekasi yg mau naik haji, salah satu asred gw mengabarkan reporter di tasikmalaya mau ke banjar tanpa “bekal”. reporter di ciamis jg mengabarkan hal yg sama. kabar baik memang. tp miris jg & terharu. dalam kondisi hujan keluhan seperti ini tnyata msh ada reporter yg bersedia bertugas ke daerah lain tanpa “bekal” apa pun dari kantor.
yg muncul dalam pikiran adalah NO! Tidak usah! ngapain cape2 liputan ke luar daerah -istilahnya- tanpa ada kompensasi? adalah risiko kantor tdk mendapat berita maksimal soal pilkada banjar. risiko kantor krn sulit mencairkan duit jalan & risiko kantor tidak menambah wartawan utk ditempatkan scr permanen di banjar. gwsegera telpon reporter itu. melarang dia pergi dengan segala pertimbangan tadi. sudahlah, istirahat saja.tabung energi buat besok.
tapi dia ngotot berangkat. jangan sampai sindo tdk dapat berita pilkada di sana. “sekalian main, kang,” katanya. yah, gw akhirnya mengizinkan dia berangkat. waredpel yg mengepalai redaksi daerah2 kukabari krn dia mesti tau soal ini. terserah apa sedikit kompensasi yg bisa diperjuangkannya bagi si reporter tadi.
malamnya, scr pribadi gw ckp puas dgn hasil liputan pilkada serentak. semua sesuai skenario. tdk mubazir kirim sms2 panjang ke semua reporter & asred yg garap pilkada. koran bagus, apakah kabar perjuangan semua lini ini sampai ke telinga bos? atau responsnya standar & dingin: “itu memang sudah tugas redaksi.” ENTAHLAH
yg jelas, cukup prihatin juga masih ada teman reporter di bandung yg memandang bhw teman2 sesama reporter di daerah relatif tabah & bertahan dgn keadaan krn punya pendapatan sampingan berupa jale. gw ga memungkiri kemungkinan itu. bbrp laporan jg sampai ke telinga gw. tp sepicik itukah pandangan reporter2 di bandung thdp teman2 kerja mrk di daerah? apalagi seorang tmn reporter di daerah notabene sering jd tempat curhat mrk2 yg di bandung. ironis.
ya, bandung memang selalu bergejolak. sejak awal sampai sekarang. itu makanya seorang reporter di bandung memilih bertugas ke daerah. “urang hayang ngadem, my. di kantor biro mah panas wae hawana. didieu mah rada tenang,” kata reporter tadi. gw gak menyalahkan siapa2. habit & keresahan itu ternyata terwariskan oleh mereka2 yg bahkan sdh meninggalkan biro. atas nama kebersamaan & persaudaraan. cuih!!
sayang juga, sampai sekarang reporter paling senior di biro terkadang masih gagap menjalankan fungsinya sebagai korlip, merancang isu, “jadi bapak”, menjadi jembatan redaksi dengan manajemen, & memosisikan sebagai representasi redaksi sindo ke eksternal. alhasil, gw msh hrs turun langsung menangani keluhan2 yg muncul & bahkan jadi kambing hitam. jobdes untuk merancang koran ini supaya lebih bagus dari hari ke hari agak terkesampingkan dengan hal2 yg sebenernya bisa diselesaikan oleh orang lain.
gpp. gwsudah menganggap pekerjaan ini adalah seni. perjuangan & pengabdian tak ada henti. dr awal berjalan pun semua yg menempati posisi ditunjuk krn kebutuhan sebagai pertimbangan utama, bukan berdasarkan kapabilitas. termasuk gw. usaha menjadi lebih baik dilakukan sambil menjalankannya. learning by doing. teori dasar kepemimpinan memang benar: 1% bakat, 99% usaha. gw masih bertahan dengan energi2 positif yg sayang untuk dibuang dari hati & pikiran gw. mdh2an ga akan habis2. gw telanjur cinta dgn sgl kebaikan & keburukan kantor ini. gw bnyk belajar, soal keredaksian, soal kemanusiaan dr awalnya ga punya apa-apa.

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.