Kisah Koptu Sutaman di Tengah Laut Aceh saat Tsunami Ratakan Daratan : Indah Ketika Pergi, Mencekam Saat Kembali
Kisah Koptu Sutaman di Tengah Laut Aceh saat Tsunami Ratakan Daratan
Indah Ketika Pergi, Mencekam Saat Kembali
Ini mungkin satu mukjizat. Kopral Satu Sutaman, 33, sedang mencari ikan di laut lepas Aceh saat gempa dan tsunami menerjang daratan. Bagaimana dia bisa selamat?
Army Dian Kurniawan, Banda Aceh
Hari Minggu yang cerah di Pantai Lhoknga, Aceh Besar. Kopral Satu Sutaman, anggota Detasemen Zeni Tempur I Kodam Iskandar Muda bersiap pergi melaut berburu ikan bersama dua temannya, nelayan setempat.
Dia merupakan satu-satunya dari 225 anggota Den Zipur I yang hobi memancing ke lautan lepas. Kegiatan itu rutin dilakukannya hampir setiap hari libur.Baginya, mencari ikan ke laut merupakan rekreasi. Sekadar pelepas jenuh setelah lima belas tahun mengabdi di kesatuan. Lagi pula, hasilnya kan bisa disantap bersama keluarga. Ini juga kepuasan tersendiri.
Sutaman pamit kepada istri dan dua anaknya yang masih lucu-lucu. Putrinya, si sulung, berusia sembilan tahun. Sementara si bungsu berusia 4,5 tahun. Sekeluarga itu tinggal di asrama markas Den Zipur I yang letaknya sekitar 500 meter dari bibir pantai Lhoknga.
Keluar dari komplek markas, Sutaman melihat pantai mulai ramai. Beberapa muda mudi tampak bercengkrama duduk-duduk di pasir pantai memandang lautan, sambil menyeruput minuman dingin. Kebanyakan mereka mengenakan pakaian olahraga. Jalan raya utama antara Banda Aceh-Meulaboh yang membelah kawasan pantai dengan komplek markas Zipur memang biasa digunakan sebagai jogging track setiap Minggu pagi. Jajaran warung-warung tenda dan semi permanen pun sudah dipenuhi pengunjung yang mencari hidangan hangat.
Pantai Lhoknga memang terkenal dengan keindahannya. Garis pantai dengan pasir putihnya. Taman yang hijau dan bersih dengan pohon-pohon kelapa dan pemandangan perbukitan di belakangnya. Sungguh suatu perpaduan yang sangat indah. Udaranya pun sejuk. Tidak heran kalau banyak orang yang memilih pantai Lhoknga sebagai tempat berlibur akhir pekan.
Kalau agak siang, biasanya banyak keluarga yang datang berombongan dengan mobil pribadi. Sutaman bertemu dengan dua temannya di pasar Lhoknga. Sesuai waktu yang disepakati sebelumnya, sekitar pukul 07.00, mereka berangkat dengan menaiki perahu boat menyusuri bibir Sungai Krueng Raba dan keluar di laut lepas.
Tidak ada tanda-tanda, bahkan firasat apa pun yang menjadi petunjuk bahwa sesuatu yang sangat mencekam akan terjadi tak lama lagi. Laut beriak tenang. Angin pun bertiup semilir. Burung Camar menari menemani laju boat.
Setelah sekitar satu jam perjalanan, ombak terasa lebih besar dari biasanya. Gelombang sangat tinggi. Perahu diombang-ambing naik turun kesana kemari. Air laut menggenang di perahu. Sutaman dan kedua rekannya bergantian membuangnya dengan kaleng bekas cat yang ada di atas perahu.
Mereka terpaksa menahan laju boat. Perahu kecil bermesin itu harus dijalankan pelan-pelan menghindari ombak pecah. Sekali saja menabrak ombak pecah pasti boat bisa terbalik. Air laut tampak kecoklatan. Tidak hijau seperti lazimnya. Kedua nelayan mulai merasakan ada yang tidak beres. Mereka menyarankan perjalanan dibatalkan dan perahu segera balik arah kembali ke pantai.
Belum sempat Sutaman berpikir, salah satu nelayan menunjuk ke arah barat dengan panik. Di kejauhan, sekitar dua kilometer dari boat, garis horison tampak tertutup gulungan ombak. Tingginya bukan tiga atau empat meter, tapi kira-kira sampai 30 meter. Pecahannya menimbulkan gulungan ombak baru yang semakin lama semakin tinggi dan semakin mendekat. Bahaya!
Boat pun dipacu kembali ke pantai. Dikejar ombak setinggi itu merupakan hal pertama bagi Sutaman. Bertahun-tahun berburu ikan ke laut dia tidak pernah melihat ombak setinggi ini. Jantungnya berdegup kencang. Dari tiga orang penumpang boat, tidak ada satu pun yang berbicara. Semuanya diliputi ketegangan. Ombak terasa semakin dahsyat. Berkali-kali boat dihentikan untuk menghindari kepala ombak yang pecah. Mereka harus menjaga keseimbangan perahu supaya selalu ada di atas gulungan.
Di tengah laut begitu, ketiganya tidak tahu apakah gelombang maha tinggi itu sudah sampai di tempat mereka atau belum. Kalau dibandingkan dengan laju boat yang maksimal hanya mampu dipacu 100 kilometer per jam, seharusnya sudah dari tadi. Yang pasti, ombak memang sangat hebat. Perahu boat itu seperti mainan saja dibuatnya. Susah sekali mengendalikan arahnya. Mati-matian mereka berupaya supaya perahu kecil yang ditumpangi tidak berada di bagian ombak yang pecah. Ketiganya sudah hampir kehabisan tenaga.
Untunglah, tak lama kemudian amukan air perlahan-lahan mereda. Ombak tidak lagi setinggi tadi. Gelombang bergulung-gulung pun sudah tak terlihat lagi. Arah perahu menjadi lebih mudah dikendalikan. Mereka pun sudah lebih dekat ke daratan. Semakin merapat pantai air laut semakin tenang.
Anehnya, air laut yang terlihat sangat keruh. Bukan hanya kecoklatan seperti saat mereka dalam perjalanan ke laut lepas tadi, tapi ini sudah seperti susu coklat. Pekat. Tidak itu saja, saat itu laut begitu kotornya. Sampah dimana-mana. Banyak potongan dan patahan kayu yang harus dihindari. Buah kelapa di mana-mana.
Dari kejauhan, Sutaman sudah melihat ada kapal terbalik di Pelabuhan PT Semen Andalas Indonesia. Sepanjang pantai yang tadi ramai tampak rata. Meski berpikir terjadi bencana alam, dia belum menduga bahwa semua sudah habis, rata dengan tanah. Tapi dia yakin, ini mungkin ada kaitannya dengan gelombang besar tadi. Kekhawatiran mulai meliputi dirinya. Sutaman ingin cepat-cepat sampai di darat. Bagaimana keadaan keluarganya?
Perahu boat rupanya tidak bisa merapat ke bibir sungai Krueng Raya, tempat tadi mereka berangkat. Airnya sudah ditutupi kotoran dan sampah. Untuk mendarat di pantai tidakmungkin. Boat akhirnya diarahkan ke pelabuhan Semen Andalas. Apa yang dilihatnya saat itu luar biasa mencekam. Semua bangunan yang tidak lebih dari dua jam sebelumnya dilihatnya masih berdiri kokoh, kini tidak ada lagi. Hanya puing-puing reruntuhan. Rata dengan tanah.
Bangkai kendaraan berserak di mana-mana. Pecahan tembok dan potongan lapisan aspal yang terkelupas dari tempatnya berbaur dengan berbagai kotoran, balok-balok kayu, dan pecahan tembok bangunan. Tidak memakan waktu lama untuk membuat Sutaman menjadi terbiasa dengan pemandangan itu. Terlebih, yang ada di pikirannya hanya nasib keluarganya.
Begitu boat merapat, dia langsung berlari ke arah asrama. Badan jalan tertutupi tumpukan kotoran. Dia harus susah payah naik turun melewatinya, menghindar supaya tidak jatuh dan terluka. Ada bangkai kapal tongkang besar pengangkut batu bara dan kapal penariknya yang terbujur di tengah jalan. Sepanjang jalan Sutaman tidak berjumpa dengan satu orang pun. Dia juga ingat betul, tidak ada satu mayat pun yang dilihatnya.
Mungkin ada 1,5 kilometer dia berlari. Namun, tidak ditemuinya lagi bangunan Markas Den Zeni Tempur I dengan tembok-tembok kokoh di depannya. Asrama tempat keluarganya tinggal ada di dekat masjid, di belakang jajaran kantor dan rumah perwira. Tapi jangankan sosok istri dan kedua anaknya, semua bangunan itu kini tidak ada lagi. Sejauh mata memandang hingga ke barisan pohon cemara di kaki bukit Naga Kumbang hanya hamparan puing saja. Sama sekali tidak ada lagi tembok yang berdiri. Bukit Naga Kumbang jaraknya kira-kira tiga kilometer dari markas.
Barulah dia sadar apa yang telah terjadi. Semuanya habis disapu amukan ombak maha dahsyat yang sempat dihadapinya di tengah lautan tadi. Kedahsyatannya ternyata sampai ke daratan. Menghantam segalanya. Sutaman juga tidak merasakan getaran apa pun ketika daratan dilanda gempa. Itu karena gelombang di tengah laut begitu dahsyat dan ombaknya pun tinggi.
“Dilautan saya pikir ombak hanya karena ada badai, Bang. Ternyata itu amukan tsunami,” kata Sutaman ketika berbincang dengan koran ini Sabtu siang pekan lalu di tengah puing-puing markasnya. Saat itu, dia dan beberapa anggota Den Zipur yang selamat mengadakan pembacaan doa dan surat Yassin untuk sebagian besar teman mereka yang tewas dan hilang.
Sutaman melanjutkan, dirinya mencari-cari terus keluarganya sampai siang. Sepanjang hari itu, dia hanya bertemu dengan dua temannya sesama anggota Den Zipur yang berhasil menyelamatkan diri. Pencarian istri dan anak-anaknya terus dilanjutkan sekaligus mencari rekan-rekan lainnya. Tapi, sampai senja menjelang, mereka belum ditemukan. Penyisiran sudah sampai ke kaki bukit Naga Kumbang. Mereka pun bermalam di sana.
Hari-hari selanjutnya dilalui Sutaman dengan pencarian dan pencarian. Namun hingga kini anak dan istrinya belum ditemukan. Sekarang Sutaman tinggal seorang diri di pengungsian. Tanpa keluarga, tanpa harta. Untunglah masih ada 12 temannya yang juga selamat meskipun sempat digulung air saat bencana terjadi. Hanya kebersamaan itu yang membuatnya bertahan. (*)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.