header image
 

Kisah Misran Asri, Satu dari Empat Penyiar Radio di Banda Aceh yang Selamat: Bergantungan di Antena Pemancar, Saksikan Kota Diamuk Tsunami

Hanya empat dari seratus penyiar radio siaran se-Banda Aceh yang lolos dari bencana. Misran Asri, 22, salah satunya. Bagaimana dia berjuang melawan maut dan selamat dari horor di hari Minggu mengenaskan itu?

Army Dian Kurniawan, Banda Aceh

Pagi sebelum gempa dan tsunami mengoyak Banda Aceh, Misran sedang menyapa para pendengar setianya. Meskipun baru satu tahun menjadi penyiar di Radio Megah FM Banda Aceh, namanya sudah cukup popular di kalangan pendengar. Acara musik etnis yang dibawakannya mendapat sambutan hangat. Radio Megah FM memang memfokuskan siaran pada program budaya Aceh. Hanya 20 persen dari 18 jam mengudara yang memutar lagu-lagu pop Indonesia.

Dari balik kaca studio siaran di lantai dua gedung yang menghadap langsung ke arah kota, Misran melihat suasana yang biasa terjadi di Minggu pagi. Warung roda dan jajanan tenda di pinggir jalan penuh pembeli. Orang-orang bersepeda santai. Beberapa dilihatnya asyik berlari santai. Keriangan itu merasuk ke hatinya. Pagi itu Misran begitu semangat siaran. Hampir dua jam di dalam studio, tidak terasa jenuh, tak pernah kehilangan kata.

Mahasiswa semester IX FKIP Universitas Syiah Kuala itu sedang bersiap memutar lagu kesekian setelah berbicara ketika gedung terasa bergetar sangat hebat. Dia sangat kaget. Ada apa ini? Gempa kok hebat sekali? pikirnya. Salah satu dinding ruangan di belakang studio tiba-tiba runtuh. Balkon atas yang tepat berada di samping tempatnya duduk ikut rubuh.

Dalam keadaan panik, cepat-cepat ditinggalkannya studio dan turun ke bawah. “Saya tak ingat lagi untuk memakai sandal. Tangga retak-retak. Dari atas ke bawah retakannya seperti mengejar langkah saya, Bang,“ paparnya ketika bertemu dengan joran ini di studio radio darurat Suara Aceh FM. Radio pertama yang mengudara di Banda Aceh sejak bencana terjadi.

Sampai di bawah, sebagian besar lantai ruangan sudah amblas. Bagian lainnya tampak retak-retak lebar. Dua temannya yang pagi itu juga sedang bertugas, Herman dan Adriansyah, sudah berkumpul di salah satu sudut. Lampu tiba-tiba padam. Mereka memutuskan untuk segera keluar dari bangunan. Orang-orang sudah banyak berkumpul di pinggir jalan. Kebingungan dan ketakutan.

Tiba-tiba terdengar orang berteriak-teriak dan menjerit-jerit. Misran tidak begitu ingat bagaimana kata-kata yang didengarnya. Yang pasti, dia menangkap maksud bahwa air laut naik ke darat. Orang-orang semakin panik dan berlarian ke sana kemari. Ibu-ibu menggendong anaknya ke arah studio. Kendaraan di jalan raya seperti saling susul dan berkecepatan tinggi. Bunyi klakson sahut menyahut. Suasananya begitu semrawut. Hanya dalam beberapa saat, sudah terjadi kemacetan di sana. Misran belum membayangkan ketika itu bahwa air yang datang bakal sangat dahsyat dan mematikan.

Sudut matanya melihat pimpinan studio, Arfiansyah, sedang memundurkan mobil Carry-nya dari halaman studio. Dia melihat jelas wajah pimpinannya itu di balik jendela mobil bagian depan yang terbuka setengah. Tak disangka, dari arah belakang mobil bosnya sudah datang air bah kira-kira setinggi tiga meter. Kalau hanya air, Misran mungkin tidak akan berlari. Tapi ini, sudah bercampur dengan segala barang mulai bagian badan mobil hingga potongan kayu yang tajam-tajam. Sekuat tenaga Misran berlari menjauh. Beberapa ibu-ibu yang menggendong anak kecil diteriakinya supaya segera naik ke lantai dua studio.

Langkah membawanya ke arah tiang antenna di samping studio. Kakinya sudah berat karena air yang bercampur lumpur naik dengan cepat menggenangi tanahnya berlari. Gemuruh suara air di belakang membuat dirinya ketakutan luar biasa. Tanpa buang waktu, langsung dipanjatnya rangka-rangka kecil tiang antenna setinggi 40 meter. “Saya seperti tidak ingat bahwa bergantungan di antenna bisa kesetrum listrik. Yang terpikir waktu itu hanya bagaimana supaya tidak kena air,” katanya.

Tepat kakinya dua tingkat memanjat, air sampai di tiang antenna itu. Misran mencoba terus memanjat. Kira-kira setelah berada di ketinggian 12 meter, dia merasa tangannya sudah tak kuat lagi memanjat. Kepanikan seolah menambah berat tubuhnya dan menguras seluruh tenaga. Di bawah, air semakin naik. Air hitam bercampur lumpur tampak jelas mengaduk-aduk semua barang yang ada. Mobil, motor, truk, pecahan tembok, kayu-kayu pecahan perahu, hingga orang-orang yang kelihatan sudah tidak berdaya di tengahnya.

Teriakan kesakitan dan minta tolong menggema di mana-mana. Sempat ditengoknya lantai dua studio dari arah antenna. Dari bagian dinding studio lantai dua yang jebol karena gempa, dia melihat jelas beberapa ibu-ibu tadi duduk merunduk ketakutan sambil melindungi balita yang mereka peluk. Jaraknya hanya satu setengah meter dari tempatnya memanjat.

Antena yang dipanjat Misran sudah bergoyang-goyang hebat dihantam berbagai benda. Dia sangat takut sebentar lagi antenna itu roboh dan mengantarkan dirinya dalam kubangan air yang masih mengalir deras di bawah. Beberapa tali baja yang menghubungkan puncak antenna dengan pasak di bawahnya sudah putus. Di kejauhan, dia melihat jelas lapangan Blang Padang dan sebagian Banda Aceh di arah barat sudah tertutup air. Entah berapa orang yang disapu air dan dibawa hanyut ke tengah kota.

“Saat itu saya sudah pasrah, Bang. Rasanya tidak akan selamat. Antena terasa sudah sangat goyah. Tinggal tunggu siapa duluan yang jatuh, saya atau tiang itu,” ujar Misran. Dia tidak bisa memperkirakan lagi berapa ketinggian air dalam puncak amukan.

Sekitar 30 menit Misran bergantung di tiang antenna. Perlahan-lahan air mulai tenang dan menyurut. Namun, dia belum berani turun. Dijangkaunya sebuah patahan papan yang dibawah air. Kemudian dibentangnya ke lantai studio di tingkat dua bangunan Megah FM. Misran pun merangkak pelan-pelan ke sana.

Sampai di sana, dia mencoba menenangkan ibu-ibu dan anaknya yang histeris. Untunghlah mereka bisa tenang. Misran tak ingat pasti jumlah mereka. Mungkin ampat sampai lima ibu dengan anaknya masing-masing. Yang dia ingat, dari ratapan mereka, ibu-ibu itu belum tahu kabar suami dan anak-anak mereka yang lain.

Air pun semakin surut. Namun, Misran masih menunggu satu jam kemudian untuk memberanikan diri turun. Alat-alat di studio di alihat aman. Air kan tidak sampai ke sana. Ibu-ibu tadi mengikutinya dari belakang. Mereka berpisah di depan. Misran memutuskan untuk pulang ke rumahnya di Lum Bata. Saat itu jam menunjukkan kira-kira pukul 10.00.

Di jalan, sekitar 25 meter di seberang studio, dia berjumpa dengan bosnya, Afriansyah. Kondisinya parah setelah digulung ombak hidup-hidup di dalam mobil. Dipapahnya ke simpang Kerkoff, lokasi pemakaman Belanda. Di sana mulai muncul pertolongan. Misran pun melanjutkan perjalanannya ke rumah. Dia ingin segera tahu keadaan keluarganya. Untunglah sekeluarganya selamat karena rumahnya berada di dataran tinggi.

Sampai kemarin, Misran belum mengetahui kabar rekan-rekannya sesama penyiar Megah FM. Dia masih menunggu perkembangan. Sekarang, Misran bergabung dengan Radio Suara Aceh yang dibangun PRSSNI dan menjadi radio pertama yang mengudara kembali di Aceh sejak bencana. Melalui siarannya, Misran ingin membangkitkan semangat warga Aceh untuk membangun kembali segala yang sudah porak poranda. Jangan terus luruh dalam kesedihan.

“Kalau berduka terus dan tidak bergerak-gerak, kapan kita mulai hidup lagi?” katanya.

Dia jugaterus mencari kabar teman-temannya yang hilang. Sudah seringkali Misran mengundang teman-teman penyiar yang mungkin selamat, untuk bergabung dengan siaran kemanusiaan Radio Suara Aceh. Tapi belum ada yang datang. Misran tidak tahu sampai kapan menunggu. Dia masih berharap. (*)

~ by armysindo on December 26, 2008.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.