Kisah Ratna, Pasien Operasi Caesar Pertama di Banda Aceh Setelah Bencana Tsunami
Kisah Ratna, Pasien Operasi Caesar Pertama di Banda Aceh Setelah Bencana
Leher bayinya terlilit tali pusar. Karena itu Ratna harus melahirkan lewat operasi Caesar. Bagaimana drama kelahiran Caesar pertama di Banda Aceh sejak bencana gempa dan tsunami setengah bulan lalu?
Army Dian Kurniawan, Banda Aceh
Sudah tiga hari Ratna, 30, mondok di rumah bidan desa. Kandungannya pas sembilan bulan. Artinya, tak lama lagi dia akan segera melahirkan. Beberapa hari belakangan dia selalu merasa sakit pinggang. Perutnya pun terkadang mules-mules. Sebentar-sebentar Ratna merasa pusing.
Suaminya, Nasir, 35, mulai khawatir. Kenapa istrinya tidak juga melahirkan? Jangan-jangan ada kelainan. Tapi, kata ibu bidan, tidak ada yang salah dengan kandungannya. Semuanya normal. Tinggal menunggu waktu saja. Tidak ada obat-obatan khusus yang diberikan bidan desa. Sejak pagi hingga menjelang siang Ratna hanya tidur-tiduran saja di atas dipan ditemani suami tercinta.
Ibu bidan datang. Ada kabar dari kota bahwa Rumah Sakit Zainoel Abidin di Banda Aceh sudah dibuka lagi setelah dibersihkan dari gunungan lumpur, kotoran, dan mayat-mayat akibat terjangan tsunami. Mereka disarankan datang ke sana. Kalau memang benar ada kelainan, penanganan di rumah sakit terbesar di Banda Aceh itu mungkin bisa lebih baik dari pada di desa.
Hari itu, Minggu 9 Januari 2005. Pas tengah hari, suami istri Nasir dan Ratna pun berangkat ke Banda Aceh dari desa mereka di Sibreh, Kecamatan Suka Makmur, Kelurahan Klim Manyang, Kabupaten Aceh Besar. Daerah mereka di dataran tinggi sehingga sama sekali tidak merasakan keganasan tsunami. Hanya gempa hebat saja sempat membuat Ratna yang hamil tua terjatuh. Tapi tidak menyebabkannya keguguran.
“Di saku saya waktu itu hanya tersisa uang Rp 100 ribu, Bang. Ibu bidan memberi tambahan Rp 10 ribu. Tapi, mau bagaimana lagi. Istri mau melahirkan, ya kami nekat saja pergi ke Banda Aceh,” papar Nasir. “Kami ini orang miskin,” timpal Ratna. Suami istri itu bertemu dengan koran ini di Rumah Sakit Zainoel Abidin, beberapa saat setelah Ratna melahirkan.
Sebagai buruh tani yang mengerjakan lahan sawah orang, penghasilan Nasir memang pas-pasan. Hasil tambahan dari pekerjaan sampingannya merawat dua ekor sapi milik tetangga pun hanya cukup untuk hidup sehari-hari bersama dua putri mereka. Nasir dan Ratna yang menikah pada 1998 itu sebelumnya sudah dikaruniai tiga anak. Semuanya perempuan. Si sulung saat ini berusia lima tahun. Anak ketiga berumur tiga tahun. Yang kedua meninggal saat dilahirkan karena sakit.
Dari desa mereka naik labi-labi (angkot) ke Banda Aceh. Sewanya Rp 50 ribu sekali jalan. Mereka menempuh jarak 14 kilometer ke arah utara. Sepanjang jalan Ratna merintih kesakitan. Sakit di pinggangnya tak tertahankan. Perutnya pun semakin mules. Keringat mengalir deras membasahi baju Ratna. Dia sampai menangis. Nasir terus menghiburnya.
Untung saja jalan antara Sibreh – Banda Aceh tidak ikut rusak karena bencana sehingga derita Ratna tidak semakin berat. Setelah satu jam perjalanan, tibalah mereka di Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh.
Benar juga kata bidan desa. Rumah sakit itu sudah dibuka kembali meskipun masih darurat. Meski sudah dua hari dibuka, tanah halamannya masih tertutup lumpur tebal. Sisa hujan yang turun pagi harinya membuat halamannya semakin becek.
Susah payah Nasir memapah istrinya berjalan masuk menuju tempat pendaftaran. Air mata Ratna sudah habis di jalan. Yang dirasakannya saat itu hanya letih yang amat sangat.
Ruangan dalam rumah sakit itu sudah bersih. Nasir tidak melihat tumpukan kotoran dan gelimpangan mayat yang, kata orang, sebelumnya banyak bertumpuk di sana dibawa air bah yang melanda Aceh.
Oleh seorang perawat, Ratna ditempatkan di salah satu ruangan kosong. Dia pun berbaring di sebuah kasur tanpa seprai, tanpa dipan, untuk memulihkan tenaga. Suami, ibu mertuanya, dan kedua kakaknya duduk di atas tikar. Mereka menunggu dokter datang.
*
Adalah bidan Eni Suri dan perawat Ainul Mardiyah yang kemudian datang kepada mereka. Keduanya adalah anggota tim medis bantuan dari Jakata. Setelah melakukan pemeriksaan, bidan Suri memutuskan untuk segera memulai proses persalinan spontan (biasa). Sama seperti diagnosis bidan desa, dari pemeriksaan luar, kondisi kandungan Ratna normal tanpa kelainan. Pembukaannya antara delapan hingga sepuluh sentimeter. Tapi Ratna tetap merasakan kelainan di perutnya.
Diusahakan berkali-kali, si jabang bayi tidak keluar juga. Padahal, Ratna sudah berusaha sekuatnya. Tenaganya sudah habis untuk ngeden. Hari sudah menjelang malam. Hujan di luar mulai turun deras. Di tengah kesakitannya, Ratna merasa ketakutan.
Bidan Suri mulai melihat indikasi kelainan dalam posisi bayi. Bisa jadi tali pusar bayi melilit di bagian lehernya. Itulah yang membuat Ratna sulit melahirkan lewat persalinan spontan. Dia pun memutuskan supaya segera dilakukan operasi Caesar. Tapi, alat-alat milik Rumah Sakit Zainoel Abidin hampir seluruhnya rusak. Sedangkan peralatan medis bantuan yang didatangkan ke rumah sakit itu masih sangat terbatas. Tidak ada alat rontgen untuk mengetahui pasti apa yang sebenarnya terjadi di dalam kandungan Ratna.
“Dokter-dokter relawan yang datang dari berbagai daerah pun kelihatan begitu sibuk melayani korban bencana. Mereka kebanjiran pasien. Umumnya para pengungsi yang luka busuk berhari-hari dan baru hari itu mendapat pertolongan pertama,” kisah Bidan Eni.
Bidan Eni menengok ke tenda tim medis militer Australia yang dibangun di tengah halaman rumah sakit. Setahu dirinya, mereka membawa peralatan operasi yang lumayan lengkap di rumah sakit lapangannya. Pegawai Dinas Kesehatan Jakarta Pusat itu pun langsung meminta bantuan ke sana.
Kebetulan, saat itu ada dua dokter yang siaga, Mayor Champions dan DR. Andrew. Setelah memeriksa ulang kandungan Ratna, keduanya sepakat dengan Bidan Suri: Operasi Caesar harus secepatnya dilakukan. Nasir dan keluarga lainnya langsung setuju.
Sekitar pukul sebelas Ratna masuk bilik operasi di tenda medis Australia. Sebelumnya, dia dibius total. Nasir bolak balik di depan tenda menunggu kabar istri dan si jabang bayi. Dia begitu khawatir terjadi apa-apa. Maklum saja, sudah hampir seminggu ini Ratna selalu mengeluh mules-mules dan sakit pinggang. Tapi semua orang bilang normal.
Tangis bayi memecah tengah malam yang sunyi. Tangisan pertama itu melegakannya. Setengah berlari, dia beranjak ke arah tenda tim medis Australia.
*
Ratna terbangun menjelang subuh. Ketika dia menengok ke kanan, tampak bayi mungil yang manis sedang terlelap damai di pangkuan perawat dibalut kain putih. Perawat itu langsung memberikan bayi yang sedang dipangkunya kepada Ratna.
Ratna tersenyum bahagia. Segala sakit yang dirasakannya beberapa hari terakhir serasa sirna. Tak sia-sia penderitaannya. Bayi itu laki-laki. Anak perkasa yang didambakan selama ini sudah lahir ke bumi. Mudah-mudahan nanti dia bisa diandalkan untuk melindungi kedua kakak perempuannya. Diciumnya kedua pipi bayi itu.
Nasir ikut tersenyum di sebelahnya. Kemudian dikumandangkannya Adzan di kedua telingan bayi mereka. Allahu Akbar Allahu Akbar….
Nasir dan Ratna belum punya nama buat jagoan mereka. Yang menarik, dua dokter dari Australia yang melakukan operasi menamai bayi mereka Champion. “Artinya, sang juara!” kata Nasir bersemangat.Meskipun mengaku bangga dengan nama itu, Nasir mengaku hanya akan memakainya sementara.
“Kami masih cari nama yang bagus. Manalah mungkin kita pakai nama asing,” katanya sambil melirik Ratna yang tersenyum di sampingnya. Koran ini pun meminta mereka berpose bersama Champion. Klik!

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.