Phinovea VI
DI SANA KITA BERCERMIN BERDUA
“Petualangan ini mesti diakhiri, Jelita. Tanpa kemurnian
wanginya tak berarti,” ucapku.
Membuang sauh aku telanjur membangun asa. Kau tertambat
di sana. erat dan dalam.
Tertatih kau memercik bening….
: “Kau berbisa!” perihmu.
Kemudian aku benar-benar pergi.
“Hatimu selalu kimiliki, Adab!” serumu, sendu memandang kepergianku.
Enggan aku berpaling. “Aku tak punya hati, Jelita!”
(karena itu aku meminta hatimu)
Senja pertama kau temukan aku tiada
Kemudian kau pelihara dendammu. Agung, kokoh,
Dan abadi.
(armydian, Februari 1998)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.