header image
 

Si Kabayan dan Pasupati Ikon 2 Abad Kota Bandung

SINDO Edisi Jawa Barat, 28 January 2009 hal 1

BANDUNG (SINDO) – Seperti direncanakan sebelumnya, tokoh fiktif si Kabayan dan Jalan Layang Pasupati (Pasteur–Surapati) resmi menjadi ikon rangkaian perayaan 200 tahun atau 2 abad Kota Bandung yang diperingati pada 25 September 2009.

Wawan Juanda, Presiden Republic Entertainment yang menjadi event organizer 10 rangkaian kegiatan 2 Abad Kota Bandung, mengatakan, tokoh si Kabayan sangat cocok menjadi ikon baru Kota Bandung. Pasalnya, Kabayan identik dengan legenda sosok Sunda yang pintar, kritis, namun sekaligus polos dan lugu. Pendek kata: boloho.

Setidaknya ada tiga figur populer yang identik dengan si Kabayan, yakni Kang Ibing,Didi Petet,dan Tisna Sanjaya. ”Semoga sosok si Kabayan memberi spirit baru bagi masyarakat Bandung,” katanya dalam jumpa pers Bandung Festival menyambut 2 Abad Kota Bandung di Pusat Kebudayaan Prancis (CCF), Jalan Purnawarman, Kota Bandung,kemarin.

Mengenai Jalan Layang Pasupati, Wawan menjelaskan, bangunan yang dikerjakan pada 1999–2005 itu mencerminkan semangat kekinian dan kemajuan zaman serta teknologi. Seperti diketahui, proyek senilai Rp484 miliar yang sebagian besar didanai Pemerintah Kuwait ini dilengkapi jembatan cable stayed terbuat dari baja berdiameter 15,7 milimeter sepanjang 161 meter dan tinggi 37,5 meter dengan teknologi yang tergolong pertama di Indonesia.

Desain ulang jembatan cable stayed yang mirip kecapi suling raksasa di fly over sepanjang 2,147 kilometer tersebut dilakukan oleh tenaga ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB). ”Jadi,si Kabayan dan Jembatan Pasupati adalah dua hal yang sangat tepat menjadi ikon Bandung masa kini,” ujar Wawan.

Kabayan dan Pasupati sekaligus menjadi logo rangkaian panjang kegiatan Bandung Festival 2009. Logo dan ikon 2 Abad Bandung ini sudah di-soft launching pada Selasa (28/10/2008) di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Republic Entertainment menyiapkan sebuah perayaan sangat istimewa yang unik dan meriah.

Berbagai kegiatan yang mengedepankan potensi budaya, arsitektur, industri kreatif,musik, dan kesenian tradisional digelar mulai 25 September hingga 31 Oktober 2009 di berbagai titik dengan pusat di Lapangan Gasibu.

Rencananya, acara diawali dengan seni instalasi kolosal Selubung Pasupati, yakni membungkus pilar- pilar Jembatan Pasupati dengan kain hitam selama satu bulan penuh sejak 26 September hingga 26 Oktober 2009 (agenda lain lihat data grafis di halaman 1).

”Kami juga akan menggelar Rocktober secara bersamaan di tiga tempat,yaitu Lapangan Gasibu, Tegallega, dan Saparua pada 31 Oktober 2009,”papar Wawan. Dia berharap Bandung Festival sebagai city event akan menjadi daya tarik bagi para wisatawan domestik maupun asing. Kegiatan ini pun diharapkan dapat menjadi penanda utama identitas baru Bandung sebagai kota festival atau kota karnaval.

Ada dua hal yang disayangkan Wawan dari Pemerintah Kota Bandung menyangkut penyelenggaraan festival kota semacam ini, yaitu lambatnya perizinan dan penyusunan agenda pariwisata yang tidak pernah jelas. Akibatnya,wisatawan jadi selalu ragu-ragu untuk menghadiri sebuah agenda karena khawatir batal atau tanggalnya berubah.

Menurut Wawan, dengan keterlibatan aktif pemerintah daerah dan swasta, rangkaian acara Bandung Festival bisa membengkak jadi 100 event. ”Pemkot Bandung cukup memberikan kemudahan izin, keringanan pajak, dan kemudahan prosedur,” pungkasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung M Askary Wirantaatmadja menyatakan, Pemkot Bandung akan memotong jalur birokrasi yang tidak penting agar berbagai kegiatan yang berpotensi menarik banyak wisatawan bisa segera dilaksanakan. ”Pak Wawan dan timnya punya rencana potong jalur prosedur agar bisa lebih mudah. Termasuk, agenda kegiatan selama setahun penuh akan dirancang dengan baik,” jelasnya. (arif budianto/raka zaipul)

Rangkaian Acara “Bandung Festival 2009” Perayaan 200 Tahun Kota Bandung

1.Selubung Pasupati 26 September - 26 Oktober 2009 di Fly Over Pasupati

2.Bambu Nusantara III 3-4 Oktober 2009 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga)

3.Parade Anglung 3-4 Oktober 2009 di Sabuga

4.Bragavaganza 10 dan 11 Oktober 2009 di Jalan Braga

5.Legendary Festival 10-11 Oktober di Jalan Braga

6.Gastronomic Viesta 10-11 Oktober di Jalan Braga

7.Dago Jazz Camera 17-18 Oktober Jalan Dago

8.Pesta Sastra 23-25 Oktober Jalan Dago

9.T-Look Merchandise Festival 25 Oktober Jalan Dago

10.Rocktober 31 Oktober 2009 di Lapangan Gasibu, Tegallega, dan Saparua

“Bandung Festival” akan dimeriahkan pula dengan talkshow, diskusi,

festival film, dan pameran berbagai karya seni budaya.

Ahad, 26 Desember, 4 tahun lalu

3 tentara berdoa di atas puing-puing markas mereka yang rata disapu tsunami

26 Desember 2008. Memori kembali melayang jauh ke empat tahun lalu. Ahad, 26 Desember 2004 ketika monster tsunami menerjang Aceh. Teringat lagi pengalaman jurnalistik bertugas meliput pascatsunami. Sebenarnya, semua sulit sekali dilukiskan dengan kata-kata. Ketika saya datang, atmosfer horor dan bau mayat bercampur sampah masih menebar di mana-mana.

Sayang, semua beberapa dokumentasi pribadiku tentang Aceh tak tersimpan dengan baik. Aku hanya mendapatkan beberapa di file yang sebelum resign, sempat ku-copy dari laptop Jawa Pos yang pernah kubawa ke sana.

Aku tergerakuntuk mencoba mengakses www.jawapos.com berharap dokumentasi berita & foto liputanku di Aceh dulu masih ada. ah, nihil! Semua sudah terhapus. Mungkin dihapus bersamaan dengan perubahan desain website itu pada 2006.

Akhirnya aku mencoba untuk mencarinya di google dengan beberapa kata kunci, termasuk namaku. Ini harapan terakhir. Alhamdulillah. Kudapatkan beberapa. Itupun dari website atau blog yang pernah mengutip berita2ku dari Jawa Pos.

Ah, biar kudokumentasikan saja di blog ini.

Sambil membaca ulang hasil liputanku dulu….

sayang

Aduh, sayang. Banyak feature dan beritaku di Aceh yang tidak ditemukan.  Terutama soal salat Jumat pertama pascatsunami di Masjid Baiturrahman. Whoahhh.

Ada yang bisa bantu?

Geus Kucel. Hayang geura balik

Di Lhoknga. Geus kucel. Menjelang hari ke-17

Di Lhoknga. Geus kucel. Menjelang hari ke-17

kasep keneh

Di Blang Bintang. Hari pertama

Di Blang Bintang. Hari pertama

Black Area

Bersama seorang TNI yang menjaga pos bayangan di

Bersama seorang TNI yang menjaga pos bayangan di daerah hitam di Lhoknga. Konon tak jauh dari sana ada perkampungan basis GAM. Ketika itu belum ada wartawan dan armada bantuan berani masuk.

Bocah Aceh di Pelukan Pedofilia

Di pengungsian korban tsunami Aceh

Di pengungsian korban tsunami Aceh

Wah, nemu laporan pertanggungjawaban liputan Aceh euy…..!!

Laporan Pembiayaan Tugas Luar Kota

Meliput Pasca Bencana Aceh

Januari 2005

  • 2 Januari: Taksi dari kantor ke Bandara Sukarno-Hatta (plus tol) = Rp 50.000
  • Disket= Rp10.000
  • Baterai Alkaline untuk tape & kamera: 4 x Rp 9000 = Rp 36.000
  • Pulsa kartu As = Rp 200.000
  • Pulsa kartu Simpati= Rp 200.000
  • Pulsa kartu Mentari = Rp 100.000
  • 3,4,5,6,9,11, dan 17 Januari: Sewa labi-labi (angkot) 7 x Rp 400.000 = Rp 2.800.000
  • 7,8,10,12-16 Januari: Sewa becak motor 8 x Rp 150.000 = Rp 1.200.000
  • 3-17 Januari: Uang Makan supir labi-labi/becak motor 15 x Rp 45.000 = Rp 675.000
  • 17 Januari: Taksi dari Markas Brimob Medan ke hotel = Rp 30.000
  • 17 Januari: Hotel Melati di Medan = Rp 200.000
  • 18 Januari:Taksi dari Hotel ke Bandara Polonia Medan = Rp 50.000
  • 18 Januari:Tiket Pesawat Medan – Jakarta (Mandala) = Rp 700.000
  • 18 Januari: Airport Tax= Rp15.000
  • 18 Januari:Taksi dari Bandara Sukarno-Hatta ke kantor (plus tol) = Rp 50.000

Total Pengeluaran = Rp 6.316.000

Dana Kantor = Rp 5.000.000

Kekurangan= Rp 1.316.000

  • Uang Makan : 2-18 Januari: 17 x Rp 125.000 = Rp 2.125.000
  • Uang Saku : 2-18 Januari: 17 x Rp 70.000 = Rp 1.190.000

Total = Rp 3.315.000

Jakarta, 20 Januari 2004

MengetahuiYang Bertugas

Nevy HethariaArmy Dian Kurniawan

Koordinator LiputanReporter

Kisah Misran Asri, Satu dari Empat Penyiar Radio di Banda Aceh yang Selamat: Bergantungan di Antena Pemancar, Saksikan Kota Diamuk Tsunami

Hanya empat dari seratus penyiar radio siaran se-Banda Aceh yang lolos dari bencana. Misran Asri, 22, salah satunya. Bagaimana dia berjuang melawan maut dan selamat dari horor di hari Minggu mengenaskan itu?

Army Dian Kurniawan, Banda Aceh

Pagi sebelum gempa dan tsunami mengoyak Banda Aceh, Misran sedang menyapa para pendengar setianya. Meskipun baru satu tahun menjadi penyiar di Radio Megah FM Banda Aceh, namanya sudah cukup popular di kalangan pendengar. Acara musik etnis yang dibawakannya mendapat sambutan hangat. Radio Megah FM memang memfokuskan siaran pada program budaya Aceh. Hanya 20 persen dari 18 jam mengudara yang memutar lagu-lagu pop Indonesia.

Dari balik kaca studio siaran di lantai dua gedung yang menghadap langsung ke arah kota, Misran melihat suasana yang biasa terjadi di Minggu pagi. Warung roda dan jajanan tenda di pinggir jalan penuh pembeli. Orang-orang bersepeda santai. Beberapa dilihatnya asyik berlari santai. Keriangan itu merasuk ke hatinya. Pagi itu Misran begitu semangat siaran. Hampir dua jam di dalam studio, tidak terasa jenuh, tak pernah kehilangan kata.

Mahasiswa semester IX FKIP Universitas Syiah Kuala itu sedang bersiap memutar lagu kesekian setelah berbicara ketika gedung terasa bergetar sangat hebat. Dia sangat kaget. Ada apa ini? Gempa kok hebat sekali? pikirnya. Salah satu dinding ruangan di belakang studio tiba-tiba runtuh. Balkon atas yang tepat berada di samping tempatnya duduk ikut rubuh.

Dalam keadaan panik, cepat-cepat ditinggalkannya studio dan turun ke bawah. “Saya tak ingat lagi untuk memakai sandal. Tangga retak-retak. Dari atas ke bawah retakannya seperti mengejar langkah saya, Bang,“ paparnya ketika bertemu dengan joran ini di studio radio darurat Suara Aceh FM. Radio pertama yang mengudara di Banda Aceh sejak bencana terjadi.

Sampai di bawah, sebagian besar lantai ruangan sudah amblas. Bagian lainnya tampak retak-retak lebar. Dua temannya yang pagi itu juga sedang bertugas, Herman dan Adriansyah, sudah berkumpul di salah satu sudut. Lampu tiba-tiba padam. Mereka memutuskan untuk segera keluar dari bangunan. Orang-orang sudah banyak berkumpul di pinggir jalan. Kebingungan dan ketakutan.

Tiba-tiba terdengar orang berteriak-teriak dan menjerit-jerit. Misran tidak begitu ingat bagaimana kata-kata yang didengarnya. Yang pasti, dia menangkap maksud bahwa air laut naik ke darat. Orang-orang semakin panik dan berlarian ke sana kemari. Ibu-ibu menggendong anaknya ke arah studio. Kendaraan di jalan raya seperti saling susul dan berkecepatan tinggi. Bunyi klakson sahut menyahut. Suasananya begitu semrawut. Hanya dalam beberapa saat, sudah terjadi kemacetan di sana. Misran belum membayangkan ketika itu bahwa air yang datang bakal sangat dahsyat dan mematikan.

Sudut matanya melihat pimpinan studio, Arfiansyah, sedang memundurkan mobil Carry-nya dari halaman studio. Dia melihat jelas wajah pimpinannya itu di balik jendela mobil bagian depan yang terbuka setengah. Tak disangka, dari arah belakang mobil bosnya sudah datang air bah kira-kira setinggi tiga meter. Kalau hanya air, Misran mungkin tidak akan berlari. Tapi ini, sudah bercampur dengan segala barang mulai bagian badan mobil hingga potongan kayu yang tajam-tajam. Sekuat tenaga Misran berlari menjauh. Beberapa ibu-ibu yang menggendong anak kecil diteriakinya supaya segera naik ke lantai dua studio.

Langkah membawanya ke arah tiang antenna di samping studio. Kakinya sudah berat karena air yang bercampur lumpur naik dengan cepat menggenangi tanahnya berlari. Gemuruh suara air di belakang membuat dirinya ketakutan luar biasa. Tanpa buang waktu, langsung dipanjatnya rangka-rangka kecil tiang antenna setinggi 40 meter. “Saya seperti tidak ingat bahwa bergantungan di antenna bisa kesetrum listrik. Yang terpikir waktu itu hanya bagaimana supaya tidak kena air,” katanya.

Tepat kakinya dua tingkat memanjat, air sampai di tiang antenna itu. Misran mencoba terus memanjat. Kira-kira setelah berada di ketinggian 12 meter, dia merasa tangannya sudah tak kuat lagi memanjat. Kepanikan seolah menambah berat tubuhnya dan menguras seluruh tenaga. Di bawah, air semakin naik. Air hitam bercampur lumpur tampak jelas mengaduk-aduk semua barang yang ada. Mobil, motor, truk, pecahan tembok, kayu-kayu pecahan perahu, hingga orang-orang yang kelihatan sudah tidak berdaya di tengahnya.

Teriakan kesakitan dan minta tolong menggema di mana-mana. Sempat ditengoknya lantai dua studio dari arah antenna. Dari bagian dinding studio lantai dua yang jebol karena gempa, dia melihat jelas beberapa ibu-ibu tadi duduk merunduk ketakutan sambil melindungi balita yang mereka peluk. Jaraknya hanya satu setengah meter dari tempatnya memanjat.

Antena yang dipanjat Misran sudah bergoyang-goyang hebat dihantam berbagai benda. Dia sangat takut sebentar lagi antenna itu roboh dan mengantarkan dirinya dalam kubangan air yang masih mengalir deras di bawah. Beberapa tali baja yang menghubungkan puncak antenna dengan pasak di bawahnya sudah putus. Di kejauhan, dia melihat jelas lapangan Blang Padang dan sebagian Banda Aceh di arah barat sudah tertutup air. Entah berapa orang yang disapu air dan dibawa hanyut ke tengah kota.

“Saat itu saya sudah pasrah, Bang. Rasanya tidak akan selamat. Antena terasa sudah sangat goyah. Tinggal tunggu siapa duluan yang jatuh, saya atau tiang itu,” ujar Misran. Dia tidak bisa memperkirakan lagi berapa ketinggian air dalam puncak amukan.

Sekitar 30 menit Misran bergantung di tiang antenna. Perlahan-lahan air mulai tenang dan menyurut. Namun, dia belum berani turun. Dijangkaunya sebuah patahan papan yang dibawah air. Kemudian dibentangnya ke lantai studio di tingkat dua bangunan Megah FM. Misran pun merangkak pelan-pelan ke sana.

Sampai di sana, dia mencoba menenangkan ibu-ibu dan anaknya yang histeris. Untunghlah mereka bisa tenang. Misran tak ingat pasti jumlah mereka. Mungkin ampat sampai lima ibu dengan anaknya masing-masing. Yang dia ingat, dari ratapan mereka, ibu-ibu itu belum tahu kabar suami dan anak-anak mereka yang lain.

Air pun semakin surut. Namun, Misran masih menunggu satu jam kemudian untuk memberanikan diri turun. Alat-alat di studio di alihat aman. Air kan tidak sampai ke sana. Ibu-ibu tadi mengikutinya dari belakang. Mereka berpisah di depan. Misran memutuskan untuk pulang ke rumahnya di Lum Bata. Saat itu jam menunjukkan kira-kira pukul 10.00.

Di jalan, sekitar 25 meter di seberang studio, dia berjumpa dengan bosnya, Afriansyah. Kondisinya parah setelah digulung ombak hidup-hidup di dalam mobil. Dipapahnya ke simpang Kerkoff, lokasi pemakaman Belanda. Di sana mulai muncul pertolongan. Misran pun melanjutkan perjalanannya ke rumah. Dia ingin segera tahu keadaan keluarganya. Untunglah sekeluarganya selamat karena rumahnya berada di dataran tinggi.

Sampai kemarin, Misran belum mengetahui kabar rekan-rekannya sesama penyiar Megah FM. Dia masih menunggu perkembangan. Sekarang, Misran bergabung dengan Radio Suara Aceh yang dibangun PRSSNI dan menjadi radio pertama yang mengudara kembali di Aceh sejak bencana. Melalui siarannya, Misran ingin membangkitkan semangat warga Aceh untuk membangun kembali segala yang sudah porak poranda. Jangan terus luruh dalam kesedihan.

“Kalau berduka terus dan tidak bergerak-gerak, kapan kita mulai hidup lagi?” katanya.

Dia jugaterus mencari kabar teman-temannya yang hilang. Sudah seringkali Misran mengundang teman-teman penyiar yang mungkin selamat, untuk bergabung dengan siaran kemanusiaan Radio Suara Aceh. Tapi belum ada yang datang. Misran tidak tahu sampai kapan menunggu. Dia masih berharap. (*)

Kisah Ratna, Pasien Operasi Caesar Pertama di Banda Aceh Setelah Bencana Tsunami

Kisah Ratna, Pasien Operasi Caesar Pertama di Banda Aceh Setelah Bencana

Leher bayinya terlilit tali pusar. Karena itu Ratna harus melahirkan lewat operasi Caesar. Bagaimana drama kelahiran Caesar pertama di Banda Aceh sejak bencana gempa dan tsunami setengah bulan lalu?

Army Dian Kurniawan, Banda Aceh

Sudah tiga hari Ratna, 30, mondok di rumah bidan desa. Kandungannya pas sembilan bulan. Artinya, tak lama lagi dia akan segera melahirkan. Beberapa hari belakangan dia selalu merasa sakit pinggang. Perutnya pun terkadang mules-mules. Sebentar-sebentar Ratna merasa pusing.

Suaminya, Nasir, 35, mulai khawatir. Kenapa istrinya tidak juga melahirkan? Jangan-jangan ada kelainan. Tapi, kata ibu bidan, tidak ada yang salah dengan kandungannya. Semuanya normal. Tinggal menunggu waktu saja. Tidak ada obat-obatan khusus yang diberikan bidan desa. Sejak pagi hingga menjelang siang Ratna hanya tidur-tiduran saja di atas dipan ditemani suami tercinta.

Ibu bidan datang. Ada kabar dari kota bahwa Rumah Sakit Zainoel Abidin di Banda Aceh sudah dibuka lagi setelah dibersihkan dari gunungan lumpur, kotoran, dan mayat-mayat akibat terjangan tsunami. Mereka disarankan datang ke sana. Kalau memang benar ada kelainan, penanganan di rumah sakit terbesar di Banda Aceh itu mungkin bisa lebih baik dari pada di desa.

Hari itu, Minggu 9 Januari 2005. Pas tengah hari, suami istri Nasir dan Ratna pun berangkat ke Banda Aceh dari desa mereka di Sibreh, Kecamatan Suka Makmur, Kelurahan Klim Manyang, Kabupaten Aceh Besar. Daerah mereka di dataran tinggi sehingga sama sekali tidak merasakan keganasan tsunami. Hanya gempa hebat saja sempat membuat Ratna yang hamil tua terjatuh. Tapi tidak menyebabkannya keguguran.

“Di saku saya waktu itu hanya tersisa uang Rp 100 ribu, Bang. Ibu bidan memberi tambahan Rp 10 ribu. Tapi, mau bagaimana lagi. Istri mau melahirkan, ya kami nekat saja pergi ke Banda Aceh,” papar Nasir. “Kami ini orang miskin,” timpal Ratna. Suami istri itu bertemu dengan koran ini di Rumah Sakit Zainoel Abidin, beberapa saat setelah Ratna melahirkan.

Sebagai buruh tani yang mengerjakan lahan sawah orang, penghasilan Nasir memang pas-pasan. Hasil tambahan dari pekerjaan sampingannya merawat dua ekor sapi milik tetangga pun hanya cukup untuk hidup sehari-hari bersama dua putri mereka. Nasir dan Ratna yang menikah pada 1998 itu sebelumnya sudah dikaruniai tiga anak. Semuanya perempuan. Si sulung saat ini berusia lima tahun. Anak ketiga berumur tiga tahun. Yang kedua meninggal saat dilahirkan karena sakit.

Dari desa mereka naik labi-labi (angkot) ke Banda Aceh. Sewanya Rp 50 ribu sekali jalan. Mereka menempuh jarak 14 kilometer ke arah utara. Sepanjang jalan Ratna merintih kesakitan. Sakit di pinggangnya tak tertahankan. Perutnya pun semakin mules. Keringat mengalir deras membasahi baju Ratna. Dia sampai menangis. Nasir terus menghiburnya.

Untung saja jalan antara Sibreh – Banda Aceh tidak ikut rusak karena bencana sehingga derita Ratna tidak semakin berat. Setelah satu jam perjalanan, tibalah mereka di Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh.

Benar juga kata bidan desa. Rumah sakit itu sudah dibuka kembali meskipun masih darurat. Meski sudah dua hari dibuka, tanah halamannya masih tertutup lumpur tebal. Sisa hujan yang turun pagi harinya membuat halamannya semakin becek.

Susah payah Nasir memapah istrinya berjalan masuk menuju tempat pendaftaran. Air mata Ratna sudah habis di jalan. Yang dirasakannya saat itu hanya letih yang amat sangat.

Ruangan dalam rumah sakit itu sudah bersih. Nasir tidak melihat tumpukan kotoran dan gelimpangan mayat yang, kata orang, sebelumnya banyak bertumpuk di sana dibawa air bah yang melanda Aceh.

Oleh seorang perawat, Ratna ditempatkan di salah satu ruangan kosong. Dia pun berbaring di sebuah kasur tanpa seprai, tanpa dipan, untuk memulihkan tenaga. Suami, ibu mertuanya, dan kedua kakaknya duduk di atas tikar. Mereka menunggu dokter datang.

*

Adalah bidan Eni Suri dan perawat Ainul Mardiyah yang kemudian datang kepada mereka. Keduanya adalah anggota tim medis bantuan dari Jakata. Setelah melakukan pemeriksaan, bidan Suri memutuskan untuk segera memulai proses persalinan spontan (biasa). Sama seperti diagnosis bidan desa, dari pemeriksaan luar, kondisi kandungan Ratna normal tanpa kelainan. Pembukaannya antara delapan hingga sepuluh sentimeter. Tapi Ratna tetap merasakan kelainan di perutnya.

Diusahakan berkali-kali, si jabang bayi tidak keluar juga. Padahal, Ratna sudah berusaha sekuatnya. Tenaganya sudah habis untuk ngeden. Hari sudah menjelang malam. Hujan di luar mulai turun deras. Di tengah kesakitannya, Ratna merasa ketakutan.

Bidan Suri mulai melihat indikasi kelainan dalam posisi bayi. Bisa jadi tali pusar bayi melilit di bagian lehernya. Itulah yang membuat Ratna sulit melahirkan lewat persalinan spontan. Dia pun memutuskan supaya segera dilakukan operasi Caesar. Tapi, alat-alat milik Rumah Sakit Zainoel Abidin hampir seluruhnya rusak. Sedangkan peralatan medis bantuan yang didatangkan ke rumah sakit itu masih sangat terbatas. Tidak ada alat rontgen untuk mengetahui pasti apa yang sebenarnya terjadi di dalam kandungan Ratna.

“Dokter-dokter relawan yang datang dari berbagai daerah pun kelihatan begitu sibuk melayani korban bencana. Mereka kebanjiran pasien. Umumnya para pengungsi yang luka busuk berhari-hari dan baru hari itu mendapat pertolongan pertama,” kisah Bidan Eni.

Bidan Eni menengok ke tenda tim medis militer Australia yang dibangun di tengah halaman rumah sakit. Setahu dirinya, mereka membawa peralatan operasi yang lumayan lengkap di rumah sakit lapangannya. Pegawai Dinas Kesehatan Jakarta Pusat itu pun langsung meminta bantuan ke sana.

Kebetulan, saat itu ada dua dokter yang siaga, Mayor Champions dan DR. Andrew. Setelah memeriksa ulang kandungan Ratna, keduanya sepakat dengan Bidan Suri: Operasi Caesar harus secepatnya dilakukan. Nasir dan keluarga lainnya langsung setuju.

Sekitar pukul sebelas Ratna masuk bilik operasi di tenda medis Australia. Sebelumnya, dia dibius total. Nasir bolak balik di depan tenda menunggu kabar istri dan si jabang bayi. Dia begitu khawatir terjadi apa-apa. Maklum saja, sudah hampir seminggu ini Ratna selalu mengeluh mules-mules dan sakit pinggang. Tapi semua orang bilang normal.

Tangis bayi memecah tengah malam yang sunyi. Tangisan pertama itu melegakannya. Setengah berlari, dia beranjak ke arah tenda tim medis Australia.

*

Ratna terbangun menjelang subuh. Ketika dia menengok ke kanan, tampak bayi mungil yang manis sedang terlelap damai di pangkuan perawat dibalut kain putih. Perawat itu langsung memberikan bayi yang sedang dipangkunya kepada Ratna.

Ratna tersenyum bahagia. Segala sakit yang dirasakannya beberapa hari terakhir serasa sirna. Tak sia-sia penderitaannya. Bayi itu laki-laki. Anak perkasa yang didambakan selama ini sudah lahir ke bumi. Mudah-mudahan nanti dia bisa diandalkan untuk melindungi kedua kakak perempuannya. Diciumnya kedua pipi bayi itu.

Nasir ikut tersenyum di sebelahnya. Kemudian dikumandangkannya Adzan di kedua telingan bayi mereka. Allahu Akbar Allahu Akbar….

Nasir dan Ratna belum punya nama buat jagoan mereka. Yang menarik, dua dokter dari Australia yang melakukan operasi menamai bayi mereka Champion. “Artinya, sang juara!” kata Nasir bersemangat.Meskipun mengaku bangga dengan nama itu, Nasir mengaku hanya akan memakainya sementara.

“Kami masih cari nama yang bagus. Manalah mungkin kita pakai nama asing,” katanya sambil melirik Ratna yang tersenyum di sampingnya. Koran ini pun meminta mereka berpose bersama Champion. Klik!