header image
 

Kisah Koptu Sutaman di Tengah Laut Aceh saat Tsunami Ratakan Daratan : Indah Ketika Pergi, Mencekam Saat Kembali

Kisah Koptu Sutaman di Tengah Laut Aceh saat Tsunami Ratakan Daratan

Indah Ketika Pergi, Mencekam Saat Kembali

Ini mungkin satu mukjizat. Kopral Satu Sutaman, 33, sedang mencari ikan di laut lepas Aceh saat gempa dan tsunami menerjang daratan. Bagaimana dia bisa selamat?

Army Dian Kurniawan, Banda Aceh

Hari Minggu yang cerah di Pantai Lhoknga, Aceh Besar. Kopral Satu Sutaman, anggota Detasemen Zeni Tempur I Kodam Iskandar Muda bersiap pergi melaut berburu ikan bersama dua temannya, nelayan setempat.

Dia merupakan satu-satunya dari 225 anggota Den Zipur I yang hobi memancing ke lautan lepas. Kegiatan itu rutin dilakukannya hampir setiap hari libur.Baginya, mencari ikan ke laut merupakan rekreasi. Sekadar pelepas jenuh setelah lima belas tahun mengabdi di kesatuan. Lagi pula, hasilnya kan bisa disantap bersama keluarga. Ini juga kepuasan tersendiri.

Sutaman pamit kepada istri dan dua anaknya yang masih lucu-lucu. Putrinya, si sulung, berusia sembilan tahun. Sementara si bungsu berusia 4,5 tahun. Sekeluarga itu tinggal di asrama markas Den Zipur I yang letaknya sekitar 500 meter dari bibir pantai Lhoknga.

Keluar dari komplek markas, Sutaman melihat pantai mulai ramai. Beberapa muda mudi tampak bercengkrama duduk-duduk di pasir pantai memandang lautan, sambil menyeruput minuman dingin. Kebanyakan mereka mengenakan pakaian olahraga. Jalan raya utama antara Banda Aceh-Meulaboh yang membelah kawasan pantai dengan komplek markas Zipur memang biasa digunakan sebagai jogging track setiap Minggu pagi. Jajaran warung-warung tenda dan semi permanen pun sudah dipenuhi pengunjung yang mencari hidangan hangat.

Pantai Lhoknga memang terkenal dengan keindahannya. Garis pantai dengan pasir putihnya. Taman yang hijau dan bersih dengan pohon-pohon kelapa dan pemandangan perbukitan di belakangnya. Sungguh suatu perpaduan yang sangat indah. Udaranya pun sejuk. Tidak heran kalau banyak orang yang memilih pantai Lhoknga sebagai tempat berlibur akhir pekan.

Kalau agak siang, biasanya banyak keluarga yang datang berombongan dengan mobil pribadi. Sutaman bertemu dengan dua temannya di pasar Lhoknga. Sesuai waktu yang disepakati sebelumnya, sekitar pukul 07.00, mereka berangkat dengan menaiki perahu boat menyusuri bibir Sungai Krueng Raba dan keluar di laut lepas.

Tidak ada tanda-tanda, bahkan firasat apa pun yang menjadi petunjuk bahwa sesuatu yang sangat mencekam akan terjadi tak lama lagi. Laut beriak tenang. Angin pun bertiup semilir. Burung Camar menari menemani laju boat.

Setelah sekitar satu jam perjalanan, ombak terasa lebih besar dari biasanya. Gelombang sangat tinggi. Perahu diombang-ambing naik turun kesana kemari. Air laut menggenang di perahu. Sutaman dan kedua rekannya bergantian membuangnya dengan kaleng bekas cat yang ada di atas perahu.

Mereka terpaksa menahan laju boat. Perahu kecil bermesin itu harus dijalankan pelan-pelan menghindari ombak pecah. Sekali saja menabrak ombak pecah pasti boat bisa terbalik. Air laut tampak kecoklatan. Tidak hijau seperti lazimnya. Kedua nelayan mulai merasakan ada yang tidak beres. Mereka menyarankan perjalanan dibatalkan dan perahu segera balik arah kembali ke pantai.

Belum sempat Sutaman berpikir, salah satu nelayan menunjuk ke arah barat dengan panik. Di kejauhan, sekitar dua kilometer dari boat, garis horison tampak tertutup gulungan ombak. Tingginya bukan tiga atau empat meter, tapi kira-kira sampai 30 meter. Pecahannya menimbulkan gulungan ombak baru yang semakin lama semakin tinggi dan semakin mendekat. Bahaya!

Boat pun dipacu kembali ke pantai. Dikejar ombak setinggi itu merupakan hal pertama bagi Sutaman. Bertahun-tahun berburu ikan ke laut dia tidak pernah melihat ombak setinggi ini. Jantungnya berdegup kencang. Dari tiga orang penumpang boat, tidak ada satu pun yang berbicara. Semuanya diliputi ketegangan. Ombak terasa semakin dahsyat. Berkali-kali boat dihentikan untuk menghindari kepala ombak yang pecah. Mereka harus menjaga keseimbangan perahu supaya selalu ada di atas gulungan.

Di tengah laut begitu, ketiganya tidak tahu apakah gelombang maha tinggi itu sudah sampai di tempat mereka atau belum. Kalau dibandingkan dengan laju boat yang maksimal hanya mampu dipacu 100 kilometer per jam, seharusnya sudah dari tadi. Yang pasti, ombak memang sangat hebat. Perahu boat itu seperti mainan saja dibuatnya. Susah sekali mengendalikan arahnya. Mati-matian mereka berupaya supaya perahu kecil yang ditumpangi tidak berada di bagian ombak yang pecah. Ketiganya sudah hampir kehabisan tenaga.

Untunglah, tak lama kemudian amukan air perlahan-lahan mereda. Ombak tidak lagi setinggi tadi. Gelombang bergulung-gulung pun sudah tak terlihat lagi. Arah perahu menjadi lebih mudah dikendalikan. Mereka pun sudah lebih dekat ke daratan. Semakin merapat pantai air laut semakin tenang.

Anehnya, air laut yang terlihat sangat keruh. Bukan hanya kecoklatan seperti saat mereka dalam perjalanan ke laut lepas tadi, tapi ini sudah seperti susu coklat. Pekat. Tidak itu saja, saat itu laut begitu kotornya. Sampah dimana-mana. Banyak potongan dan patahan kayu yang harus dihindari. Buah kelapa di mana-mana.

Dari kejauhan, Sutaman sudah melihat ada kapal terbalik di Pelabuhan PT Semen Andalas Indonesia. Sepanjang pantai yang tadi ramai tampak rata. Meski berpikir terjadi bencana alam, dia belum menduga bahwa semua sudah habis, rata dengan tanah. Tapi dia yakin, ini mungkin ada kaitannya dengan gelombang besar tadi. Kekhawatiran mulai meliputi dirinya. Sutaman ingin cepat-cepat sampai di darat. Bagaimana keadaan keluarganya?

Perahu boat rupanya tidak bisa merapat ke bibir sungai Krueng Raya, tempat tadi mereka berangkat. Airnya sudah ditutupi kotoran dan sampah. Untuk mendarat di pantai tidakmungkin. Boat akhirnya diarahkan ke pelabuhan Semen Andalas. Apa yang dilihatnya saat itu luar biasa mencekam. Semua bangunan yang tidak lebih dari dua jam sebelumnya dilihatnya masih berdiri kokoh, kini tidak ada lagi. Hanya puing-puing reruntuhan. Rata dengan tanah.

Bangkai kendaraan berserak di mana-mana. Pecahan tembok dan potongan lapisan aspal yang terkelupas dari tempatnya berbaur dengan berbagai kotoran, balok-balok kayu, dan pecahan tembok bangunan. Tidak memakan waktu lama untuk membuat Sutaman menjadi terbiasa dengan pemandangan itu. Terlebih, yang ada di pikirannya hanya nasib keluarganya.

Begitu boat merapat, dia langsung berlari ke arah asrama. Badan jalan tertutupi tumpukan kotoran. Dia harus susah payah naik turun melewatinya, menghindar supaya tidak jatuh dan terluka. Ada bangkai kapal tongkang besar pengangkut batu bara dan kapal penariknya yang terbujur di tengah jalan. Sepanjang jalan Sutaman tidak berjumpa dengan satu orang pun. Dia juga ingat betul, tidak ada satu mayat pun yang dilihatnya.

Mungkin ada 1,5 kilometer dia berlari. Namun, tidak ditemuinya lagi bangunan Markas Den Zeni Tempur I dengan tembok-tembok kokoh di depannya. Asrama tempat keluarganya tinggal ada di dekat masjid, di belakang jajaran kantor dan rumah perwira. Tapi jangankan sosok istri dan kedua anaknya, semua bangunan itu kini tidak ada lagi. Sejauh mata memandang hingga ke barisan pohon cemara di kaki bukit Naga Kumbang hanya hamparan puing saja. Sama sekali tidak ada lagi tembok yang berdiri. Bukit Naga Kumbang jaraknya kira-kira tiga kilometer dari markas.

Barulah dia sadar apa yang telah terjadi. Semuanya habis disapu amukan ombak maha dahsyat yang sempat dihadapinya di tengah lautan tadi. Kedahsyatannya ternyata sampai ke daratan. Menghantam segalanya. Sutaman juga tidak merasakan getaran apa pun ketika daratan dilanda gempa. Itu karena gelombang di tengah laut begitu dahsyat dan ombaknya pun tinggi.

“Dilautan saya pikir ombak hanya karena ada badai, Bang. Ternyata itu amukan tsunami,” kata Sutaman ketika berbincang dengan koran ini Sabtu siang pekan lalu di tengah puing-puing markasnya. Saat itu, dia dan beberapa anggota Den Zipur yang selamat mengadakan pembacaan doa dan surat Yassin untuk sebagian besar teman mereka yang tewas dan hilang.

Sutaman melanjutkan, dirinya mencari-cari terus keluarganya sampai siang. Sepanjang hari itu, dia hanya bertemu dengan dua temannya sesama anggota Den Zipur yang berhasil menyelamatkan diri. Pencarian istri dan anak-anaknya terus dilanjutkan sekaligus mencari rekan-rekan lainnya. Tapi, sampai senja menjelang, mereka belum ditemukan. Penyisiran sudah sampai ke kaki bukit Naga Kumbang. Mereka pun bermalam di sana.

Hari-hari selanjutnya dilalui Sutaman dengan pencarian dan pencarian. Namun hingga kini anak dan istrinya belum ditemukan. Sekarang Sutaman tinggal seorang diri di pengungsian. Tanpa keluarga, tanpa harta. Untunglah masih ada 12 temannya yang juga selamat meskipun sempat digulung air saat bencana terjadi. Hanya kebersamaan itu yang membuatnya bertahan. (*)

KISAH RIZAL, BOCAH SEBATANG KARA AKIBAT TSUNAMI: Dengan Butiran Nasi di Tangannya, Lari dari Bah

Terjangan tsunami membuat Rizal Azhar kehilangan orang tua dan semua adiknya. LSM Lost Children Operation datang menolongnya. Bagaimana dia bisa dipertemukan dengan pamannya?

Army Dian Kurniawan, Banda Aceh
RIZAL Azhar langsung bangkit ketika adiknya, Wilda Rahmi, 12, membangunkannya pada Minggu pagi itu. Jam dinding dilihatnya sudah lewat pukul 08.00. Wilda mengajak sang kakak yang berusia 15 tahun tersebut makan pagi setelah mandi.

Biasanya, setelah salat subuh, Rizal berlari pagi bersama teman-teman sebayanya menuju kota. Tempat tinggalnya, Desa Lam Hasan, Kecamatan Peukan Bada, Banda Aceh, hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari pusat kota. Tapi, pagi itu, Rizal memilih tidur lagi.

Setelah bangun, dia belum sampai ke kamar mandi ketika rumahnya bergetar hebat. Barang-barang berjatuhan. Beberapa piring di meja makan jatuh dan pecah. Dinding rumahnya retak-retak. Kaca jendela dan pintu berantakan. Seisi rumah pun panik.

Belum pernah seumur hidup dirinya merasakan gempa sekeras itu. Semua yang ada di rumah berlarian keluar. Sang ibu, Zuhrawati, memeluk kedua adiknya, Wilda dan Nurhaliza, 9, sambil merunduk menjauhi rumah. Ayahnya, Samida, sudah meninggal empat tahun lalu.

Empat saudaranya yang saat itu sedang berada di rumahnya pun kalut. Mereka juga berlari menuju jalan. Di sana sudah banyak tetangga yang bertiarap di jalan.

Getaran kemudian mereda. Semua kembali ke dalam rumah. Sembari masih memperbincangkan hal yang sebenarnya terjadi, keluarga memulai sarapan pagi bersama sambil menonton televisi. Piring-piring dan gelas yang pecah serta barang yang berantakan sudah dibereskan.

Rizal menikmati lauk dengan lahap. Dia tak jadi mandi. Saat sedang nikmat-nikmatnya bersantap, tiba-tiba di luar rumah terdengar suara orang berteriak, “Air! Air!”

Suara gemuruh menyusul di belakangnya. Dari jendela yang sudah bolong, Rizal melihat banyak orang berlarian tak keruan sambil mengangkut barang-barang. Dia dan ibunya kembali keluar rumah diikuti si bungsu, Nurhaliza. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka sambil berlari dan menunjuk ke belakang mengabarkan bahwa air laut naik.

“Bilang sama semua, kita lari ke gunung!” teriak pemuka kampung. Pada saat menengok ke arah yang ditunjuk, Rizal melihat gumpalan hitam besar bergulung-gulung dengan cepat menuju ke arah mereka berdiri. Semuanya histeris dan berlari secepat-cepatnya tanpa menghiraukan barang-barang di rumah.

“Saya ingat betul, beberapa butir nasi putih masih menempel di tangan saya saat saya mulai berlari,” tutur remaja ini. Dia mencoba mencari ibu, adik-adik, serta saudara-saudaranya. Namun, orang-orang yang berkumpul bersamanya di meja makan lima menit lalu itu sudah tak ada.

Sebentar, dia mencari-cari. Tapi, pandangannya terhalang orang-orang yang berlarian semrawut. Rizal lantas memutuskan untuk terus berlari tanpa menengok lagi ke belakang. Yang terpikir saat itu hanya segera menjangkau daerah perbukitan yang jaraknya sekitar satu kilometer dari kampung.

Rizal tidak ingat lagi berapa cepat dan berapa lama dia berlari. Genangan air dan lumpur seakan susul-menyusul dengan langkahnya. Suara gemuruh dibarengi hantaman benda-benda keras semakin terdengar mendekat di belakangnya.

Bulu kuduknya sampai merinding. “Entah telinga saya yang tak normal atau apa. Seingat saya, waktu berlari itu, tidak terdengar lagi teriakan orang-orang. Selain suara yang sangat keras di belakang, selebihnya tidak ada suara,” kisahnya sambil menerawang.

Rizal mencapai bukit dengan kaki amat letih. Di sana, ternyata banyak orang yang berkumpul. Para lelaki seperti berteriak-teriak tak menentu sambil menunjuk-nunjuk ke bawah. Sementara itu, perempuannya kebanyakan menangis terisak-isak. Anak-anak menangis lebih keras. Suasana sangat kacau.

Dia melihat ke bawah. Jalan yang baru saja dilaluinya sudah dipenuhi air kira-kira setinggi dua setengah meter. Sudah tidak ada lagi gulungan ombak seperti yang dilihatnya sebelum berlari tadi. Sekarang, hanya air yang membawa dan seolah mempermainkan balok-balok kayu, mobil, dan mayat-mayat terapung-apung. Agak jauh di sana, rumah-rumah sudah terendam. Dia tak mengenali lagi di mana persisnya rumahnya.

“Mata saya perih,” kenangnya. Mungkin ingin menangis, tapi tak bisa. Keluarganya dicari ke sana ke mari. Mereka tak ada. Hanya beberapa kawan sepermainan dan orang tua teman yang ada.

Setelah air surut, Rizal dan orang-orang sekampungnya memutuskan untuk turun ke kampung lagi. Sepanjang jalan pulang, dia terus menengok ke kanan-kiri dengan harapan, ada ibu, adik, atau saudara lainnya. Tapi, sia-sia.

Rumahnya juga sudah rata dengan tanah. “Semua habis. Rontok, Bang. Tak ada apa pun yang bisa diambil (diselamatkan) lagi,” ujarnya. Rizal tampak tegar saat mengisahkan peristiwa mengerikan itu. Matanya tetap tajam saat menerawang dan membayangkan kejadian tersebut.

Hingga sore, tetap tak ada kabar tentang keluarganya. Rizal akhirnya ikut mengungsi ke rumah saudara tetangganya di daerah kota. Di sana, kerabatnya itu bertemu dengan anggota tim relawan dari posko bantuan kemanusiaan Lost Children Operation (Operasi Anak Hilang) dari daerah Amaliah. Relawan tersebut masih orang Aceh juga.

Rizal pun difoto dan ditanyai hal ihwal keluarganya. Kemudian, foto dan keterangan tentang dirinya ditempel di sejumlah tempat umum di Banda Aceh. Saudara tetangganya menjadi pihak yang dikontak bila ada orang yang mengaku keluarga atau kerabat.

Ternyata, upaya itu membuahkan hasil. Hari itu juga, pamannya menemukan dia. Relawan Lost Children Operation mengecek dan yakin bahwa yang datang memang benar paman Rizal, mereka pun dipertemukan. Kini, Rizal tinggal dengan keluarga sang paman yang rumahnya ada di pusat kota. Tak jauh dari posko Amaliah.

Pertemuan itu tak lepas dari peran Ade Muhammad. Koordinator lapangan posko Amaliah tersebut mengungkapkan, mereka memilih cara yang berbeda untuk mempertemukan anak-anak yang telantar itu. Bukan sekadar menerima laporan kehilangan, mereka mengerahkan tim informan untuk mencari anak-anak sebatang kara ke kamp-kamp pengungsian atau desa-desa seputar Banda Aceh.

Setelah bertemu, anak itu difoto dan dicatat identitas yang diketahui, kemudian ditempel di kertas-kertas yang disebar ke beberapa sudut di dalam kota. Dengan demikian, orang yang merasa mengenal anak itu bisa dengan cepat menghubungi posko dan dipertemukan. Di antara 36 anak yang diumumkan terpisah dengan keluarganya hingga kemarin, baru dua yang bisa dipertemukan. Sebuah hasil yang cukup baik di tengah kesemrawutan pascagempa.

“Karena segalanya terbatas, para relawan tidak mendapat uang saku. Hanya uang makan dan kadang-kadang uang rokok. Benar-benar sederhana,” papar Ade. Posko Amaliah masih membutuhkan banyak relawan untuk bergabung dengan mereka dan bersama-sama berusaha mempertemukan anak-anak hilang dengan keluarganya.

Sebenarnya, program Lost Children Operation merupakan bagian dari aid consortium yang melibatkan Jepang, AS, dan Australia. Tapi, entah kenapa distribusi dana bantuan belum sampai ke tangan mereka. Padahal, kata Ade, khusus untuk penanganan bencana Aceh ini, AS sudah mengucurkan dana USD 35 juta, sedangkan Jepang USD 0,5 miliar. “Tapi, getarannya tidak sampai pada kami,” ujarnya sambil tergelak.***

www.jawapos.com

2.000 Peserta 10 K Belum Ditemukan

BANDA ACEH - Banyak cerita tragis saat “monster” bernama tsunami menggulung kota dan penghuni Banda Aceh. Pada Minggu kelam itu, digelar lomba gerak jalan 10 Kilometer (10 K) Aceh Open 2004 yang diikuti 2.000 peserta. Wali Kota Banda Aceh Syarif Abdul Latif yang sedianya membagikan piala untuk pemenang juga ikut hilang bersama ribuan peserta lomba tersebut.

Firdaus, 52, pegawai Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora Provinsi NAD) yang juga salah seorang panitia 10 K tersebut, menjadi saksi ganasnya tsunami yang membuat ribuan peserta lomba itu lenyap. Dia juga merupakan orang terakhir yang berbincang dengan Syarif sebelum wali kota itu hilang dan hingga kini belum ditemukan.

Saat petaka Minggu pagi tersebut, Firdaus bersama wali kota berbincang di Lapangan Blang Padang, tempat lomba lari itu digelar. Keduanya sedang berbincang santai sambil menunggu lomba berakhir. “Jarum jam saat itu menunjukkan pukul 08.20,” jelas Firdaus kepada wartawan koran ini, Armydian Kurniawan.

Sebagian besar peserta lomba yang dimulai setengah jam sebelumnya tersebut sudah kembali memasuki lapangan setelah mengitari rute jalan-jalan utama di tengah kota. Beberapa di antaranya memang ada yang sengaja memotong kompas dan segera kembali ke lapangan ketika merasakan gempa yang sangat hebat sekitar sepuluh menit setelah mereka dilepas di garis start.

Lomba rutin setahun sekali yang terbuka untuk masyarakat luas tersebut kali ini dimulai lebih awal dari jadwal. Seharusnya start dimulai tepat pukul 08.00. Namun, karena sudah banyak peserta yang berkumpul dan meminta segera diberangkatkan, lomba dimajukan 15 menit. Sehingga, sekitar 30 menit setelahnya, peserta yang benar-benar ikut rute sudah banyak yang tiba.

Obrolan Firdaus dan wali kota tentang gempa yang baru terjadi terhenti begitu mereka mendengar suara gemuruh hebat di kejauhan dan melihat orang-orang berlarian kocar-kacir sambil berteriak penuh kepanikan.

Tak lama, dari atas Paviliun Seulawah yang berjarak sekitar 100 meter arah barat dari tempat mereka berdiri, tampak air laut berwarna hitam pekat setinggi enam meter bergulung-gulung deras mendekat dengan sangat cepat seperti tangan-tangan besar yang siap menerkam. Angin yang sangat kencang disertai debu menerjang mereka.

Firdaus sempat melihat jelas berbagai benda seperti lempengan seng, balok-balok kayu, bahkan sepeda motor beterbangan di atas gelombang. Ombak raksasa yang jatuh dan pecah di daratan mengeluarkan putaran asap yang membubung tinggi. Entah itu debu atau memang air laut yang panas bergolak. Air juga datang dari ujung Jalan Iskandar Muda, tepatnya dari belakang rumah dinas Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Endang Suwarya.

Kalau tidak segera pergi, air pasti akan mengurung. Mencium bahaya sudah di depan mata, spontan Firdaus menarik tangan wali kota untuk ikut berlari bersama dirinya menjauhi Lapangan Blang Padang. Keduanya berlari beriringan secepat-cepatnya ke arah simpang empat Taman Sari yang berjarak sekitar 400 meter dari lapangan tersebut.

Firdaus sempat menoleh ke belakang. Dia melihat ratusan orang yang sedang berlarian di jalan dari arah Punge, Lam Paseh, hilang dalam sekejap ditelan gelombang air yang bergulung-gulung itu. Bapak tujuh anak tersebut ingat betul, jalanan yang dilaluinya saat berlari masih kering tanpa genangan sedikit pun. Sedangkan tak lebih dari 100 meter di belakangnya, air deras sudah melumat segala yang dilewati. Termasuk, jalanan yang beberapa detik sebelumnya dia lintasi untuk menjauh menyelamatkan diri.

Ketika menengok ke samping, dia tidak melihat lagi Wali Kota Syarif Abdul Latif. Mungkin wali kota tertinggal di belakang. Situasi yang penuh kepanikan dan sangat menegangkan membuat dirinya tidak lagi berpikir untuk mencari sosok wali kota tersebut. Gemuruh air di belakangnya terdengar semakin besar dan mendekat. Firdaus pun berhasil mencapai simpang empat. Dia tidak berhenti dan dengan cepat memutuskan menuju pendapa gubernuran yang berjarak sekitar 500 meter dari situ.

Firdaus pun berhasil mencapai Simpang Empat. Ayah crosser nasional Zulfikar itu tidak berhenti dan dengan cepat memutuskan untuk menuju pendapa gubernuran yang berjarak sekitar 500 meter dari situ. Genangan air dan lumpur ternyata sudah merendam halaman pendapa kira-kira setinggi lutut. Kemungkinan datang dari arah lain. Dia langsung naik ke bangunan yang paling tinggi bersama orang-orang yang juga sudah lebih dahulu mencapai tempat itu. Di sana mereka berdiam dan berdebar-debar menunggu apa yang akan terjadi.

“Syukurlah, ternyata air berhenti tepat di depan pendapa. Barangkali sudah terpecah menghantam ratusan bangunan lain sebelum tiba di sana. Hanya genangan air dan lumpur yang masih merembes pelan. Saya tidak terluka sedikit pun,” ujar penduduk Ulee Kareng (3 km dari pusat Kota Banda Aceh) itu.

Setelah satu jam berada di pendapa, Firdaus yang baru setahun bertugas di Dispora NAD memutuskan untuk kembali ke Lapangan Balang Padang untuk menengok keadaan para peserta lomba. Ketika itu, air sudah surut. Di sepanjang jalan kondisi sudah porak-poranda. Tumpukan kayu, sampah, dan timbunan lumpur di mana-mana. Mobil saling bertumpuk. Mayat-mayat berserakan. Kondisinya sudah tak keruan. Banyak juga korban yang masih hidup dan ditolong beberapa orang yang juga berhasil selamat.

Karena kondisi jalan yang rusak berat dan penuh timbunan barang, Firdaus terpaksa merangkak ratusan meter untuk mencapai Blang Padang. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Saiful dan Nuruddin, dua temannya yang selamat, sama-sama panitia lomba lari dan gerak jalan. Tiba di lapangan, kondisinya sudah berbalik 180 derajat. Tidak ada lagi keramaian dan spanduk-spanduk acara. Tidak ditemukan lagi satu pun peserta lomba maupun panitia lainnya. Semuanya sudah rata dengan tanah, tertutup lumpur, dan tertimbun barang-barang yang diempaskan ombak tsunami. Hanya monumen pesawat pertama milik RI yang masih terpajang kukuh sebagai saksi bisu tragedi yang terjadi di lapangan di depannya.

Tepat di trotoar di bawah pesawat, ketiga orang itu melihat seorang ibu yang siap melahirkan ditunggui suaminya yang panik. Perempuan itu sudah telentang tak berdaya, penuh kotoran, dan menjerit-jerit kesakitan. Karena tak tahan membayangkan penderitaan si ibu, Firdaus berjalan mendekat dan dengan kemampuan seadanya membantu proses persalinan di pinggir jalan.

Untunglah, ibu tadi dan bayi perempuannya berhasil diselamatkan. Spontan Firdaus membuka baju yang dikenakannya dan dibalutkan ke tubuh si bayi. Tidak berapa lama, datang bantuan. Ibu itu dan bayinya langsung dipindahkan ke ambulans. Sampai kemarin, saat ditemui koran ini ketika sedang merapikan gedung Dispora NAD bersama rekan-rekannya, Firdaus tidak tahu lagi kabar keluarga itu.

Kepala Dispora NAD Teuku Pribadi mengisahkan, dirinya yang mengibarkan bendera start sebagai tanda lomba dimulai. Ketika gempa hebat terjadi, semua yang beada di lapangan tiarap. Tak lama kemudian, Hotel Kuala Tripa dan Balai Gading yang berada di seberang lapangan ambruk dengan suara yang luar biasa kerasnya.

Karena itu, Teuku Pribadi langsung berinisiatif mengecek kondisi asrama atlet binaan dan SMU Plus Olahraga di Kawasan Stadion Long Raya. Lokasinya sekitar 10 menit perjalanan dengan mobil. Jadi, saat musibah terjadi, Teuku Pribadi sudah berada di asrama. Untunglah, semua atlet binaan selamat karena sedang berada di luar gedung untuk sarapan.

Dia memperkirakan, saat tsunami menghantam lapangan Blang Padang dan menenggelamkan orang-orang yang berada di sana, masih cukup banyak peserta yang di tengah perjalanan. Paling tidak, mereka yang berada di lintasan Kampung Neuseu atau di Jalan Diponegoro depan Masjid Raya Baiturrahman. Dia menuturkan, dirinya pernah mendengar kabar ada peserta lomba yang naik ke atap-atap rumah maupun pohon-pohon asam di pinggir jalan. (*)

www.jawapos.com

*************************
Created at 5:34 AM
*************************

ahad, 26 Desember, 4 tahun lalu

26 Desember 2008. Memori kembali melayangjauh ke empat tahun lalu. Ahad, 26 Desember 2004 ketika monster tsunami menerjang Aceh. Teringat lagi pengalaman jurnalistik bertugas meliput pascatsunami. Sebenarnya, semua sulit sekali dilukiskan dengan kata-kata. Ketika saya datang, atmosfer horor dan bau mayat bercampur sampah masih menebar di mana-mana.

Sayang, semua beberapa dokumentasi pribadiku tentang Aceh tak tersimpan dengan baik. Aku hanya mendapatkan beberapa di file yang sebelum resign, sempat ku-copy dari laptop Jawa Pos yang pernah kubawa ke sana.

Aku tergerakuntuk mencoba mengakses www.jawapos.com berharap dokumentasi berita & foto liputanku di Aceh dulu masih ada. ah, nihil! Semua sudah terhapus. Mungkin dihapus bersamaan dengan perubahan desain website itu pada 2006.

Akhirnya aku mencoba untuk mencarinya di google dengan beberapa kata kunci, termasuk namaku. Ini harapan terakhir. Alhamdulillah. Kudapatkan beberapa. Itupun dari website atau blog yang pernah mengutip berita2ku dari Jawa Pos.

Ah, biar kudokumentasikan saja di blog ini.

Sambil membaca ulang hasil liputanku dulu….

Kalau Ada

koran sudah tipis setipis-tipisnya. semua berjuang dan memompa semangat di tengah-tengah antara sejuta harapan dan sejuta kejenuhan. Ga tahu akan tutup atau tidak.

Mengeluh itu manusiawi. Manja tak apa-apa. Semua bisa kuturuti. Tapi kalau ada yang masih  cari-cari kesempatan izin palsu atau bahkan menghilang untuk senang-senang di tengah keprihatinan ini, SILAKAN PERMISI SAJA. ANGKAT KAKI DARI SINDO!!!

Aku muak mengurusi orang-orang gampang ngelunjak. Aku muak mengurusi perasaan kanak-kanak. Koran ini harus dewasa. Cukup sudah 3 tahun menjadi bumper. 2008, tahun terpahit bagi SINDO. Semoga di 2009 yang penuh tanda tanya dan kekhawatiran, semua mau sama-sama terbang rendah untuk mengangkat kembali kapal ini ke permukaan. Dan terbang…………

Whistle - Right Next To Me

Goodbye, it’s time for me to go
I’ll call you in the morning
So I can let you know
The way I really feel girl
To put your mind at ease
If I don’t then who will
If I make it, I still
Want you to be there with me
You say you love and then you learn
If you’ve learned to love me baby
You’ll wait ’til I return
I know it hasn’t been easy
To love a man like me
Some day, if we try
There will be no goodbye
And we will live happily, ’cause

{Chorus}:
I’ll be there one day
And you will be right next to me
I’ll be there one day
And you will be right next to me

Hey there
Will you be where I am
Will you be by my side girl
Or with another man
{Will you be next to me}
Just wait a little longer
Girl I don’t know how long
Just try to understand
This is not what I planned
I’m sorry this had to be
Gir, oh girl every man needs a woman
You’re the woman that I choose
And I can’t afford to lose you baby

{Chorus}

I swear to the world
You’ll always be my girl
Just say you’ll be
Right next to me

KENA LO….!!!

Inilah hasil jepretan diam-diam reporter & fotografer SINDO atas polah kriminal para asred2 mereka. dasar asred2 koplok. he he he…

salah satu asred Jabar (pojok kiri, bertopi) sedang bertransaksi di salah satu lokasi dugem di Kota Kembang

Joni, salah satu asred Jabar (kiri), tengah diinterogasi oleh aparat polsek kebon sirih.

Joni, salah satu asred Jabar (kiri), tengah diinterogasi oleh aparat polsek kebon sirih dalam kasus sodomi terhadap seorang kakek-kakek.

YOVAN: salah satu asred Jabar (foto atas, pojok kiri, bertopi) sedang bertransaksi di salah satu lokasi dugem di Kota Kembang

itikaf

berakhir sudah.

setiap malam tidur di mushola lantai 2 kantor seperti orang lg itikaf

setiap hari memperhatikan cara kerja reporter & kepala redaksi di bandung

membandingkannya dengan cara kerja tim redaksi sindo di jakarta.

pantesan ga pernah nyambung!

bandung & jakarta sama saja.

kronis! akut!

semua tau yg harus dilakukan tapi tidak dilakukan

akhirnya kerepotan sendiri

dan saling menyalahkan.

oh betapa selama ini semua terlena untuk memanjakan ego masing2

habis waktu 3 tahun ini karena orang2nya sibuk ngurusin orang2 juga,

bukan ngurusin koran.

ada hasil yg sdh kutawarkan ke teman2 di bandung

dan setelah kumatangkan bakal kusampaikan ke tim di jkt.

sebenarnya itu hal2 mendasar sekali.

mau menyalahkan kondisi? silakan

take it or leave it!

fair.

kalau ga begitu, sindo ga pernah dewasa

dilahirkan, merangkak, belajar jalan, merangkak lagi

sindo bayi autis

ngajak perang tapi asik berkonflik di garis belakang

inginnya disusui terus

atasan dan bawahan sama saja.

hei, susu ibu sudah habis!

survive atau mati sekalian

12 Jam Depok-Bandung

dasar memang sudah niat sebener2nya niat, akhirnya jadi juga gw ngegeber megapro 2003 gw untuk perjalanan depok-bandung seharian tadi. Ga hanya karena penasaran gmana rasanya touring, tp jg karena gw butuh motor buat mobilitas selama di bandung 7 hari ke depan.

maka jam 10.00 pamitlah gw sm istri tercinta yang sudah berbaik hati mempersiapkan barang-barang kebutuhan gw selama di bdg dalam 2 tas punggung. Jalur perjalanan sudah dipelajari dari kemaren2. Start dari depok maharaja lewat kali malang, bekasi, cikarang, karawang, cikampek, purwakarta, lembang, bandung.

cuaca sangat cerah menemani perjalanan depok-jakarta-bekasi-karawang.  sampai di karawang sekitar jam 12.00 langsung merapat ke kantor pemkab. di sana sudah menunggu raden, wartawan sindo di karawang. raden lantas “menggiring” gw ke kosannya. teh botol dingin menyambut di sana. glek glek glek. ah, segerrr.lumayan melepaskan dahaga sepanjang perjalanan tadi.

kira-kira sejam gw ngaso di kosan raden. kosannya keren cing. lega banget, adem, kamar mandi di dalem, tapi sewanya hanya Rp350.000 sebulan. cowok cewek lagi! pantesan  raden betah di karawang. seenggaknya, tiga cewek yang kamarnya hadap2an sm kamar raden (satu di antaranya sudah married) mampu membuat adik angkatan gw waktu kuliah ini terpesona dan akhirnya terinspirasi untuk …..

Yah, setelah sekitar satu jam ngaso dikosan raden, sekitar jam 13.00, kami berdua meluncur menuju second destination: rumah reporter sindo di purwakarta, asep supiandi.

seperti perjalanan depok-karawang, cuaca benar-benar mendukung. ga terlalu panas, juga ga mendung2 amat. jalanan cenderung lengang. hanya satu dua truk besar melintas. sekitar satu jam di jalan, jam 13.00 sampailah kami di depan mapolwil purwakarta. meeting point yg telah disepakati dengan mr asep.

dari sana kami langsung geser ke rumah mr asep. ngobrol tentang nasib koran, nasib karyawannya, sampe topik lain yg ga penting semakin hangat ditemani kopi seduhan mrs asep dan gorengan plus saos, juga garapan mrs asep.

menyadari mendung sudah menggelayut (yang menggelayut mendungnya lho, bukan yang laen) di langit purwakarta, jam 15.00 kami pun permisi melanjutkan perjalanan menuju lembang. asep’s family membekali kami oleh2 khas purwakarta simping sari raos. masing2 satu plastik besar. nuhun pisan ah kang asep.

memasuki wanayasa, kawasan yg paling keren di purwakarta karena pesona alamnya yang sangat indah, hujan lebat & angin kencang menyambut kami. meski membekali diri dgn jas hujan, kami memilih berteduh dulu di emperan sebuah warung. pisang aroma & keripik singkong menemani obrolan ga penting kami saat menunggu hujan berhenti.

menjelang magrib, saat ujan udah rada reda, kami pun melanjutkan perjalanan. gw & raden melapisi diri dengan jas ujan. ternyata cuaca memang tak berpihak pada kami. di tengah jalan ujan semakin lebat. tapi karena udah kagok basah kuyup, kami memutuskan terus melaju.

selepas pertigaan jalan cagak, kabut tebal menemani hujan lebat. maklum, kami memasuki dataran tinggi. jarak pandang kira2 hanya 10 meter.itu pun sudah menyalakan lampu jauh. kami berjalan sangat pelan2 karena kendaraan lumayan ramai, dari belakang maupun dari depan. sedang ujan lebat dan kabut, masih aja banyak truk dan bus yang dipacu edan2an.

brrr, hawa begitu dingin dan benar2 terasa sampai ke tulang. gw menggigil. kami pun akhirnya mampir di warung jagung bakar di pinggir jalan. kopi dan indomie rebus lumayan membuat badan kembali hangat. sekitar jam 19.30 kami meneruskan perjalanan ke lembang. saat itu hujan udah ga sederas sebelumnya. tapi kabut tebal kayaknya masih betah menemani kami.

hingga akhirnya kami tiba di lembang sekitar jam 20.15. sambutan orangtua raden begitu hangat. lebih anget dari indomi dan kopi di warung jagung bakar tadi. nyokapnya raden banyak cerita tentang putra bungsunya. lumayan, ada rahasia2 pribadi raden buat bahan celaan. he he he.

sesudah menghabiskan (lagi) secangkir kopi, sekitar jam 20.30 kami berangkat ke warnet. raden harus kirim berita. setelah ngedit 2 materi yang dibuat raden (1 berita buat senin, 1 box buat selasa) dan mengirimnya ke jakarta, gw pamit meneruskan perjalanan ke kantor biro di bdg. raden gw tinggal di warnet dengan seorang gadis yang menemuinya di sana (soal ini, kuat dugaan raden dan gadis itu sudah janjian sebelumnya). raden ga memperkenalkan gadis itu sebagai pacarnya. tapi selama di depan komputer, mereka keliatan intim banget. lengket kayak perangko. wah, bahan gosip lagi nih. he he

jam 21.00 lewat gw cabut ke bandung. ujan tinggal menyisakan genangan di jalanan. bahkan rintik-rintiknya pun sudah pergi. meski tak sedingin perjalanan sebelumnya, tetep aja gw ga betah lama2 terus di luar. motor gw pacu agak cepat. ga sampai jam 22.00 gw udah sampai di kantor biro.

di kantor masih ada ogi, raka, mas eko, kang dede, arif, dan kang opik. setelah saling say hi, gw mandi kemudian berlanjut dengan ngobrol hal2 berat secara ringan. apalagi kalau bukan persoalan kantor dan koran.

menjelang tengah malam, satu per satu awak sindo pamit pulang. di antaranya ada yg terpaksa gw “usir” spy jangan pulang terlalu tengah malem. setelah mas eko & arif berangkat utk meliput detik2 peringatan hari pahlawan di cikutra, ogi & kang dede akhirnya pamitan. raka & opik udah duluan bbrp menit sblum mereka.

tinggal gw sendiri di depan komputer ini dan rasa takjub karena ga ngerasa pegal & capek sedikitpun setelah 12 jam perjalanan seharian. sebentar lg komp ini gw shutdown lalu gw naik ke mushola di atas yang karpetnya biasa jadi “kasur” gw kalo harus bermalam di kantor biro.

Thank’s God udah mengiringi perjalanan gw hingga selamat sampai di bandung & motor ga ada rewel sedikitpun.

wah, mulai kerasa ngantuk nih.

whoaaa…hhhhhhh

zzz….   zzz….  zzz….  zzz….

foolish games

“Foolish Games”

You took your coat off and stood in the rain,
You’re always crazy like that.
And I watched from my window,
Always felt I was outside looking in on you.
You’re always the mysterious one with
Dark eyes and careless hair,
You were fashionably sensitive
But too cool to care.
You stood in my doorway, with nothing to say
Besides some comment on the weather.

[Pre-Chorus 1]
Well in case you failed to notice,
In case you failed to see,
This is my heart bleeding before you,
This is me down on my knees, and…

[Chorus]
These foolish games are tearing me apart,
And your thoughtless words are breaking my heart.
You’re breaking my heart.
You’re always brilliant in the morning,
Smoking your cigarettes and talking over coffee.
Your philosophies on art, Baroque moved you.
You loved Mozart and you’d speak of your loved ones
As I clumsily strummed my guitar.
You’d teach me of honest things,
Things that were daring, things that were clean.
Things that knew what an honest dollar did mean.
I hid my soiled hands behind my back.
Somewhere along the line, I must’ve gone
Off track with you.

[Pre-Chorus 2]
Well, excuse me, guess I’ve mistaken you for somebody else,
Somebody who gave a damn,
Somebody more like myself.

[Chorus]
You took your coat off,
Stood in the rain,
You’re always crazy like that.